Waqf, From Society to Society

Waqf, From Society to Society

Dewasa ini, Indonesia terus mengalami pertumbuhan pada sektor ekonomi.  Akan tetapi tumbuhnya perekonomian Indonesia ini hanya dirasakan oleh beberapa daerah saja, terutama Pulau Jawa. Pertumbuhan ekonomi nasional seharusnya membawa dampak yang baik bagi kesejahteraan masyarakat secara holistik. Misalnya, hadirnya pertumbuhan ekonomi dan peningkatan income masyarakat seharusnya mampu menciptakan kesejahteraan yang meningkat pula. Namun pada faktanya, semakin tinggi tingkat income bagi masyarakat (apabila merujuk pada UMR daerah), semakin tinggi pula tingkat penganggurannya. Sebut saja DKI Jakarta yang pada tahun 2019 memiliki UMP sebesar Rp3.940.973 dengan tingkat penganggurannya mencapai 6,22%, ke tujuh terbesar di Indonesia (Badan Pusat Statistik, 2020). UMK terbesar di Jawa Barat berlaku di Kabupaten Karawang yakni Rp4.594.324 dengan tingkat pengangguran sebesar 9,61% tahun 2019 (Badan Pusat Statistik Kabupaten Karawang, 2020). Hal ini terjadi lantaran para pengusaha enggan membangun pabrik di wilayah yang memiliki UMP/UMK tinggi.

Melihat permasalahan tersebut, pemerintah berupaya melalui berbagai kebijakan yang disinyalir dapat menjadi insentif tumbuhnya perekonomian suatu negara dan menangani isu-isu makroekonomi seperti pengangguran, ketimpangan dan kemiskinan. Diantaranya melalui peningkatan government spending dalam bentuk pembangunan infrastruktur dan dana bantuan sosial. Sebagai instrumen kebijakan fiskal ekspansif, hal ini dinilai dapat menstimulus pertumbuhan ekonomi. Hal tersebut dapat terlihat dari adanya peningkatan anggaran infrastruktur pemerintah (2014-2019) dan realisasi belanja bantuan sosial (2017-2018) pada Grafik 2 dan 3.


Grafik 1 Anggaran Infrastruktur Pemerintah (2014-2019)

Sumber: (www.databoks.katadata.co.id, 2019a)


Grafik 2 Realisasi Belanja Bantuan Sosial 2018 Terhadap 2017

Sumber: (www.databoks.katadata.co.id, 2019b)

Pembangunan infrastruktur terus naik dalam lima tahun terakhir hingga pada tahun 2019 mencapai 415 triliun. Realisasi program bantuan sosial seperti Kartu Indonesia Pintar (KIP) atau bantuan langsung non tunai pada tahun 2018 mencapai Rp 84,32 triliun, meningkat sebesar 52,5% dibanding tahun sebelumnya. Pembangunan infrastruktur ini meningkatkan konektivitas antar wilayah Indonesia yang berupa kepulauan, sehingga terjadi kelancaran dalam proses produksi dan distribusi barang. Pembangunan infrastruktur juga dapat mendorong investasi baik dalam ataupun luar negeri. Pada akhirnya, hal ini diharapkan dapat meningktkan pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka panjang.

Ternyata, peran serta dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi tersebut juga dapat dilakukan masyarakat melalui keikutsertaannya pada wakaf, salah satu instrumen distribusi pendapatan dalam islam. Dalam Kamus Istilah Fiqih, wakaf berarti memindahkan hak milik pribadi menjadi milik suatu badan yang memberi manfaat bagi masyarakat (Mujieb, 2002).

Wakaf yang sedang digaungkan saat ini adalah wakaf uang yang dinilai lebih “memudahkan” karena kita tidak harus menjadi kaya atau menjadi tuan tanah untuk dapat berwakaf. Wakaf uang dapat dilakukan oleh seseorang, sekelompok orang, lembaga atau badan hukum dalam bentuk uang tunai, termasuk surat berharga. Akan tetapi, sebagian masyarakat masih memandang bahwa wakaf harus berupa harta tidak bergerak seperti tanah dan bangunan. Sedangkan, wakaf dalam bentuk uang masih jarang diketahui dan ditunaikan oleh masyarakat. Hal ini menjadi salah satu alasan belum optimalnya pemberdayaan wakaf di Indonesia. Data menunjukan wakaf uang masih memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan. Dari Rp180 triliun potensi wakaf menurut Badan Wakaf Indonesia, baru sekitar Rp31,9 miliar yang terealisasi (sejak tahun 2011-2018). Meskipun begitu, berdasarkan Laporan Dompet Dhuafa telah terjadi peningkatan dana wakaf yang terhimpun sebesar 53%, dari Rp21.445.700.465 milyar pada tahun 2017 menjadi Rp32.732.848.069 milyar di tahun 2018. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan realisasi wakaf uang adalah literasi tentang wakaf uang itu sendiri. Maka sebagai seorang wakif (pewakaf), mengetahui skema atau alur wakaf uang di Indonesia menjadi sangat penting.


Gambar 1 Skema Wakaf Uang di Indonesia

Sumber: (Kementerian Keuangan RI, 2019)

Gambar 1 menunjukan skema wakaf uang di Indonesia. Alur wakaf dimulai saat wakif (pewakaf) mewakafkan uangnya melalui lembaga keuangan syariah penerima wakaf uang (LKS-PWU). Kemudian nazir (pengelola) akan mengelola dana wakaf yang terkumpul untuk diinvestasikan pada berbagai usaha produktif atau produk keuangan syariah lainnya. 90% keuntungan akan diperuntukan untuk mauquf ‘alaih (orang yang berhak menerima) dan 10% untuk penerimaan nazhir. Perlu diketahui, wakaf uang diterbitkan dalam bentuk sertifikat wakaf uang oleh LKS-PWU kepada wakif dan nazhir sebagai bukti penyerahan harta benda wakaf.

Tahukah kamu, apabila wakaf dikelola dengan baik, maka wakaf akan memberikan efek yang sama dengan kebijakan fiskal ekspansif dalam perekonomian?

Alokasi 90% keuntungan yang diperoleh mauquf alaih dari pengelolaan dana wakaf dibagi menjadi dua sektor, yaitu sektor ekonomi dan non ekonomi. Hasil keuntungan wakaf yang dialokasikan untuk sektor non ekonomi baik yang bersifat sosial ataupun pendidikan menjadi bantuan konsumtif kepada mauquf ‘alaih. Disini kita dapat melihat kesamaan peran wakaf dengan pemberian bantuan sosial dari pemerintah. Bantuan sosial dari dana wakaf akan meningkatkan pendapatan masyarakat kelas menengah ke bawah dan menjadi insentif bagi mereka untuk meningkatkan konsumsi. Terjadi peningkatan jumlah barang yang diminta oleh konsumen yang selanjutnya akan meningkatkan agregat demand. Selain itu, bantuan dalam bidang pendidikan seperti pemberian beasiswa atau pembangunan sekolah gratis akan meningkatkan human capital yang selanjutnya akan meningkatkan produktivitas pekerja dalam jangka panjang. Peningkatan produktivitas berarti peningkatan GDP dan peningkatan GDP berarti peningkatan standard of living masyarakat. Salah satu contoh penerapan wakaf uang untuk bidang pendidikan yang terkenal adalah wakaf Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir. Universitas ini sukses sebagai perguruan tinggi utama dalam studi Islam dan peningkatan sumber daya manusia, khususnya mencetak para ulama.

Wakaf uang juga dialokasikan untuk sektor ekonomi dalam bentuk dana bergulir (usaha produktif). Bisa saja dalam bentuk bantuan tambahan modal bagi UMKM. Hal ini menjadi insentif bagi industri padat karya atau labour intensive untuk meningkatan kapasitas produksinya dan terjadi peningkatan permintaan akan tenaga kerja. Sehingga, wakaf dapat mengurangi jumlah pengangguran di Indonesia. Berkurangnya jumlah pengangguran akan meningkatkan pendapatan masyarakat, yang pada ujungnya akan meningkatkan penerimaan negara melalui peningkatan pendapatan dari pajak. Oleh pemerintah, dana ini dapat digunakan untuk pembangunan infrastruktur yang dalam jangka panjang dan secara tidak langsung juga akan meningkatkan pendapatan wakif itu sendiri. Layanan publik yang biasanya disediakan oleh pemerintah, sekarang dijalankan oleh masyarakat itu sendiri melalui wakaf. Dari masyarakat untuk masyarakat. Pada akhirnya, kita akan merasakan manfaat fiskal dari pengelolaan dana wakaf.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa wakaf uang mampu menstimulus pertumbuhan ekonomi dengan meningkatkan pendapatan, terutamanya masyarakat kelas menengah ke bawah. Hal ini juga akan memiliki pengaruh pada program pengentasan kemiskinan, dan pemerataan pendapatan di Indonesia. Wakaf uang, suatu bentuk kontibusi sederhana dengan impact yang luar biasa, jika dilakukan bersama-sama. Untuk kita, untuk masyarakat Indonesia, yuk berwakaf!

Referensi

Bps.go.id. 2020. Badan Pusat Statistik. [online] Available at: <https://www.bps.go.id/pressrelease/2019/11/05/1565/agustus-2019–tingkat-pengangguran-terbuka–tpt–sebesar-5-28-persen.html> [Accessed 8 May 2020].

Karawangkab.bps.go.id. 2020. Badan Pusat Statistik Kabupaten Karawang. [online] Available at: <https://karawangkab.bps.go.id/dynamictable/2018/03/06/27/tpak-dan-tpt-kabupaten-karawang-2013—2019-persen-.html> [Accessed 8 May 2020].

Kementerian Keuangan RI. (2019). Kajian Pengembangan Wakaf Uang Dalam Rangka Pendalaman Pasar Keuangan Syariah.

Mujieb, M. A. (2002). dkk, Kamus Istilah Fiqh, Cet. Ke-3, Jakarta: Pustaka Firdaus.

www.databoks.katadata.co.id. (2019a). 2019, Pemerintah Alokasikan Rp 415 Triliun Untuk Pembangunan Infrastruktur. Online Magazine, 2019. https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/02/15/2019-pemerintah-alokasikan-rp-415-triliun-untuk-pembangunan-infrastruktur

www.databoks.katadata.co.id. (2019b). Realisasi Belanja Bantuan Sosial 2018 Meningkat. Online Magazine, 13(September 2017), 2019. https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/08/27/realisasi-belanja-bantuan-sosial-2018-meningkat-52

 

 

Leave a Reply