Tuntunan Islam dalam Merayakan Idul Fitri & Idul Adha

Resensi Buku

Judul Buku : Tuntunan Islam dalam Merayakan Idul Fitri & Idul Adha
Penulis : Abu Ubaidillah Muhaimin bin Subandi
Penerbit : Darul Huda
Tahun Terbit : 2009
Jumlah Halaman : 84

Buku ini membahas mengenai dua hari raya umat muslim, Idul Fitri dan Idul Adha, atau Al ‘Idain. Makna Al ‘Idain sendiri artinya dua hari yang di dalamnya ditumpahkan segala rasa suka cita yang senantiasa dirayakan oleh umat-umat terdahulu hingga sekarang.

Pada hari itu segala macam kebaikan diturunkan oleh Allah pada hamba-hambaNya, diantaranya : diperbolehkannya berbuka (menyantap makanan dan minuman) setelah sebulan lamanya dilarang, zakat, penyempurnaan ibadah haji dengan tawaf, ziarah, daging-daging kurban, tersambungnya tali silaturahmi, dan lain lain. Ibadah-ibadah yang dilaksanakan pada kedua hari tersebut, seperti sholat ied, zakat fitrah, kurban dll. masing-masing memiliki makna tersendiri. Dan karenanya kebiasaan pada hari itu sarat akan kebahagiaan, nikmat dan kegembiraan.

“Aku datang pada kalian sedang kalian memiliki dua hari yang kalian besenang-senang di dalamnya pada masa jahiliyah. Sungguh Allah telah menggantikan untuk kalian yang lebih baik dari dua hari itu yaitu : hari Raya Kurban dan hari Idul Fithri”. [HR Imam Ahmad, Abu Daud, dan Nasa’i]

Berhubung Hari Raya Idul Fithri hanya tinggal beberapa hari lagi, alangkah baiknya jika kita bisa memahami esensi dari hari raya umat islam serta ibadah-ibadah yang terkandung di dalamnya sehingga kita lebih afdhol dalam melaksanakan ibadah hari raya tersebut. Melalui buku ini, Abu Ubaidillah Muhaimin bin Subandi membahas secara mendalam tentang makna kseluruhan serta hal yang berkaitan dengan ‘Idul Fihtri dan ‘Idul Adha. Beberapa hal yang bisa kita pelajari dari buku ini diantaranya adalah :

1. Definisi Idul Fitri
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ : أَنْ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : اَلصَّوْمُ يَوْمُ تَصُوْمُوْنَ، وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُوْنَ وَاْلأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّوْنَ
“Dari Abi Hurairah (ia berkata) : Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda. “Shaum/puasa itu ialah pada hari kamu berpuasa, dan (Idul) Fithri itu ialah pada hari kamu berbuka. Dan (Idul) Adlha (yakni hari raya menyembelih hewan-hewan kurban) itu ialah pada hari kamu menyembelih hewan”. (HR.Tirmidzi)

Berdasarkan hadits tersebut, maka yang dimaksud dengan ‘Idul Fithri dalam artian sebenarnya adalah kembali berbuka (tidak puasa lagi) setelah selama sebulan kita berpuasa.

2. Makna ‘Idul Fitri
Disebutkan dalam Al-Qur’an secara jelas dan terang benderang pada ayat yang mungkin kita semua telah mengahafal nya, yaitu surat Al-Baqarah ayat 183. Pada ayat tersebut, Allah memerintahkan makhluk-Nya untuk berpuasa dengan satu tujuan. Tujuan itu adalah agar kita bertakwa kepada Allah S.W.T.

Oleh karena itu setelah selesai menjalankan ibadah puasa Ramadhan selama satu bulan penuh dan tiba Hari Raya’Idul Fithri, kita jangan lupa pada tujuan tersebut. ‘Idul Fithri memang merupakan hari raya umat islam dimana pada hari itulah umat islam bersuka cita dan seperti telah meraih sebuah kemenangan setelah satu bulan penuh berjuang untuk menahan lapar & haus. Namun ada baiknya kita tidak melupakan bahwa ‘Idul Fithri sendiri adalah awal dari pencapaian seorang muslim untuk menjadi orang yang bertakwa.

3.Tentang Zakat Fithrah
“Rasullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari perbuatan yang sia-sia dan kata-kata kotor serta sebagai pemberian makanan untuk orang-orang miskin”.

Zakat Fithrah hukumnya fardhu ‘ain bagi setiap muslim. Zakat Fithrah wajib dikeluarkan begitu matahari terbenam pada akhir bulan Ramadhan, sedangkan batas waktunya zakat fitrah ditunaikan sebelum berangkat menjalankan sholat Idul Fithri. Dan yang termasuk orang-orang yang berhak menerima zakat fithrah adalah berdasarkan firman Allah pada surat At-Taubah ayat 60,

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, Para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana
Dan besarnya zakat fithrah adalah sebanyak satu sha’.

Sedangkan jenis harta yang dikeluarkan adalah sesuatu yang menjadi makanan pokok pada suatu negeri pada umumnya, baik berupa gandum, beras, kurma serta makanan-makanan lain yang menjadi makanan pokok dari sebuah negeri. Bagi Indonesia , maka kurang lebih sebanyak 3,5 liter atau 2,7 kg beras.

Ucapan Selamat pada Hari Raya ‘Idul Fithri
“dari Jubair bin Nufair berkata : dahulu para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam apabila mereka bertemu pada hari raya sebagian mengucapkan kepada sebagian lain : (Taqabbalallahu minna waminkum)”

Banyak khilafiyah ulama tentang apakah boleh mengucapkan selain pada hadits tersebut seperti kebiasaan orang Indonesia yang mengucapkan Minal ‘Aidin Wal Faizin. Namun ada baiknya kita tetap mengikuti apa yang sudah dicontohkan oleh Nabi dan sahabatnya.

Itulah beberapa pelajaran yang bisa kita ambil tetang Hari Raya ‘Idul Fithri. Semoga Insya Allah kita disampaikan kepada “Hari Kemenangan” tersebut dengan mendapat perdikat muttaqin dari Allah S.W.T

Leave a Reply