Trend Of Halal Life : Moslem Fashion

“Pakaian bagaikan kulit kedua sehingga gaya berbusana mampu mencerminkan kepribadian penggunanya” –Anne Avantie

     Ekonomi dan keuangan syariah bukanlah suatu konsep yang eksklusif. Di dalamnya terdapat nilai-nilai universal yang tidak terbatas untuk umat muslim saja. Ekonomi syariah berpotensi sebagai salah satu pilar untuk memperkuat perekonomian suatu negara. Dalam upaya memaksimalkan potensi dari ekonomi dan keuangan syariah tersebut, salah satu langkah prioritas yang perlu dilakukan ialah melalui pengembangan regional halal value chain (rantai nilai halal regional), yang meliputi pengembangan ekosistem dari berbagai tingkatan usaha syariah, dari hulu hingga hilir. Di dalam halal value chain terdapat sejumlah industri yang berkaitan dengan kebutuhan masyarakat muslim yang terbagi menjadi beberapa klaster, yaitu makanan dan minuman halal, pariwisata halal, fashion muslim, media dan rekreasi halal, farmasi dan kosmetik halal, serta energi terbarukan.

     Dari berbagai jenis industri tersebut, salah satu industri yang menunjukkan tren perkembangan yang pesat, yaitu fashion muslim. Pertumbuhannya yang tinggi didukung oleh minat yang besar dari konsumen muslim hingga perancang busana di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Fashion muslim di Indonesia sendiri marak pada tahun 2010 sejak diselenggarakannya Indonesia Islamic Fashion Consortium (IIFC) dalam acara Indonesia Islamic Fashion Fair (IIFF). Kemudian, beragam kegiatan fashion mulai menyebar ke berbagai penjuru daerah.

      Lalu, apa yang mendorong industri fashion muslim di Indonesia menjadi populer?

     Berdasarkan data populasi penduduk muslim tahun 2020 yang dipublikasikan Kanal Moderasi Islam, Indonesia merupakan negara muslim terbesar dimana terdapat 229 juta umat Islam. Angka ini merupakan 87,2% dari populasi penduduk Indonesia yang berjumlah 263 juta jiwa dan 13% dari populasi muslim dunia. Hal tersebut menjadi faktor utama berkembangnya industri fashion muslim di Indonesia. Berdasarkan Q.S. Al-A’raf [7] ayat 26, Allah SWT berfirman yang artinya, “Wahai anak cucu Adam! Sesungguhnya kami telah menyediakan pakaian untuk auratmu dan untuk perhiasan bagimu. Tetapi, pakaian takwa itulah yang lebih baik. Demikianlah sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka ingat.” Ayat tersebut menunjukkan bahwa bagi umat muslim diwajibkan untuk memakai pakaian yang dapat menutup aurat, terutama bagi wanita.

     Mengapa demikian?

     Dalam agama Islam, terdapat konsep maslahah. Mashlahah merupakan segala bentuk kebaikan yang berdimensi material dan spiritual serta individual dan kolektif serta harus memenuhi tiga unsur, yaitu kepatuhan syariah (halal), bermanfaat dan membawa kebaikan (thoyib) dalam semua aspek secara keseluruhan yang tidak menimbulkan kemudharatan. (Ahmad Ifham Sholihin, 2010:498). Di dalam bukunya, Ahmad Ifham Sholihin menyebutkan pembagian maslahah, antara lain :

1.Mashlahah Dharuriyyah, yaitu kemaslahatan yang diperoleh manusia dalam bentuk terpeliharanya survivalitas hidupnya. Jika kemashlatan tersebut tidak diperoleh, kehidupan manusia akan mengalami kehancuran.

2.Mashlahah Hajiyyah, yaitu kemaslahatan yang diperoleh manusia dalam kondisi yang berkaitan dengan keringanan (rukhshah) yang diberikan oleh Allah swt kepada manusia. Misalnya, jika ada orang sakit yang menyebabkannya tidak bisa duduk atau berdiri, dia diperbolehkan shalat dengan berbaring.

3.Mashlahah Tahsiniyyah, kemaslahatan yang diperoleh oleh manusia ketika melaksanakan hukum-hukum yang berkaitan dengan sifat, akhlak dan adab. Misalnya, menjaga kebersihan badan dan pakaian,  menjaga diri terhadap hal-hal yang bisa menjatuhkan martabat kepribadian Islam, seperti melakukan hal yang sia-sia atau terlibat dalam perkara syubhat atau samar (Ahmad Ifham Sholihin, 2010:496).

     Dari ketiga pembagian maslahah tersebut, dapat dipahami bahwa seseorang memerlukan adab berpakaian yang baik karena akhlak dapat tercermin dari cara berpakaian. Oleh karena itu, fashion muslim yang sesuai dengan syariat Islam bukan hanya berfungsi sebagai tren masa kini, melainkan juga berperan untuk membawa kemaslahatan bagi manusia. Secara lebih spesifik, hal ini dapat dikategorikan sebagai mashlahah tahsiniyyah dimana dengan berpakaian sesuai syariat Islam dapat menjaga kehormatan sekaligus menjaga martabat kepribadian Islam.

    Dari bidang ekonomi, industri fashion muslim menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi kreatif. Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa nilai ekonomi dari industri fashion muslim sebesar Rp166 triliun setiap tahunnya, khusus untuk busana muslim saja sebesar Rp45 triliun. Performa ekspor Indonesia untuk industri fashion muslim sejalan dengan performa ekspor komoditas dan produk tekstil, nilainya terus meningkat dan selalu masuk ke dalam 10 komoditas ekspor utama pada tahun 2012 – 2016. Selain itu pada tahun 2017, Indonesia mampu mencatatkan nilai ekspor produk fashion muslim hingga USD 12,23 miliar.

       Bagaimana posisi fashion muslim Indonesia di dunia?

Grafik 1.1 Global Islamic Economy Score Indonesia dalam Bidang Modest Fashion


Sumber            : State of The Global Islamic Economy Report 2014 – 2019 telah diolah kembali

     Berdasarkan State of The Global Islamic Economy Report pada tahun 2014 -2019, Indonesia menunjukkan perkembangan pesat dalam industri fashion muslim dengan skor yang kian meningkat setiap tahunnya, yaitu terakhir sebesar 37,9 pada tahun 2019. Dalam sektor fashion muslim, Indonesia menempati peringkat ketiga dunia setelah Uni Emirat Arab dan Turki. Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa konsumsi fashion muslim dunia mencapai USD 238 miliar. Angka ini diprediksi akan terus meningkat hingga 2024 mendatang menjadi USD 402 miliar. Tentunya hal tersebut membuka peluang lebih besar bagi Indonesia untuk menunjukkan kreasi terbaik di kancah internasional. 

     Seiring dengan perkembangan zaman, cara-cara untuk memperkenalkan fashion muslim juga semakin modern. Penggunaan sosial media yang semakin masif menyebabkan promosi dan pembelian barang fashion muslim semakin mudah diakses oleh konsumen. Dalam hal ini peran teknologi sudah sangat dikuasai sehingga dapat membantu industri fashion muslim yang berkembang melalui e-commerce sehingga sekarang ini pembelian pun dapat dilakukan secara online tanpa bertatap muka dengan produsen.

     Agar halal value chain yang ingin diwujudkan dari fashion muslim dapat terjaga, produsen harus memiliki sertifikat halal sesuai dengan UU No 33 Tahun 2014 mengenai Jaminan Produk Halal yang diberlakukan sejak tanggal 17 Oktober 2019. Proses sertifikasi halal pada fashion, yaitu dengan meneliti penggunaan emulsifier (sabun) pada saat pencucian kain. Untuk produk halal, bahan pembuatan emulsifiernya berasal dari tumbuhan, sedangkan untuk emulsifier yang tidak halal bahan pembuatnya berasal dari babi.

     Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa fashion muslim sebagai salah satu industri halal yang berperan dalam menopang perekonomian Indonesia. Tidak hanya dalam skala nasional, namun fashion muslim Indonesia telah membuktikan mampu jaya di skala internasional. Fashion muslim juga sebagai bentuk dakwah Islam kepada dunia, bukan semata hanya untuk memperlihatkan identitas religi atau sarana berbisnis. Oleh karena itu, halal value chain harus terus diperhatikan untuk memastikan fashion muslim sesuai dengan syariat Islam.

 

Referensi         :

Ilyas, R. (2017). Konsep Mashlahah Dalam Konsumsi Ditinjau Dari Perspektif Ekonomi Islam. Jurnal Perspektif Ekonomi Darussalam, 1(1), 9-24. doi:10.24815/jped.v1i1.6517

Kompasiana.com. (2019, December 04). Perkembangan Fashion Syariah di Indonesia. Retrieved September 13, 2020, from https://www.kompasiana.com/noerharida/5de77a5d097f363180658962/perkembangan-fashion-syariah-di-indonesia

Masterplan Ekonomi Syariah Indonesia 2019-2024. (n.d.). Retrieved September 05, 2020, from https://knks.go.id/storage/upload/1573459280-Masterplan%20Eksyar_Preview.pdf

Merdeka. (2018, December 15). 5 Kehebatan Bisnis Busana Muslim Indonesia di Dunia. Retrieved September 13, 2020, from https://m.merdeka.com/uang/5-kehebatan-bisnis-busana-muslim-indonesia-di-dunia.html

State of The Global Islamic Economy Report 2019/2020. (n.d.). Retrieved September 05, 2020, from http://www.siicex.gob.pe/siicex/documentosportal/alertas/documento/doc/661967144radC8C6E.pdf

Leave a Reply