The Real Islamic Man : Peran Ekonomi Islam dalam Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

Tujuan   Pembangunan   Berkelanjutan   atau    dalam    bahasa    Inggris    dikenal  sebagai Sustainable Development Goals disingkat dengan SDGs adalah 17 tujuan dengan 169 capaian yang terukur dan tenggat yang telah ditentukan oleh PBB sebagai agenda dunia untuk kemaslahatan manusia dan planet bumi. Agenda pembangunan berkelanjutan dibuat untuk menjawab tuntutan dalam mengatasi kemiskinan, kesenjangan, dan perubahan iklim dalam bentuk aksi nyata. Konsep Tujuan Pembangunan Berkelanjutan lahir pada Konferensi Pembangunan Berkelanjutan PBB pada 2012 dengan menetapkan rangkaian target yang bisa diaplikasikan secara universal serta dapat diukur dalam menyeimbangkan tiga dimensi pembangunan berkelanjutan, yaitu lingkungan, sosial, dan ekonomi.

Salah satu tujuan SDGS adalah Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung jawab. Menurut PBB, tujuan ini bermakna menjamin pola produksi dan konsumsi yang berkelanjutan. Berkelanjutan dalam hal ini adalah sumber daya dapat kita gunakan namun harus menjamin ketersediaannya bagi generasi di masa depan.

Bagaimana ekonomi Islam dapat berkontribusi untuk mewujudkan SDGs khususnya tujuan ke- 12? Sebelum itu, harus dipahami terlebih dahulu perbedaan asumsi ekonomi Islam dan konvensional dalam melaksanakan kegiatan ekonomi.

Ekononi Islam memiliki perbedaan dengan Ekonomi Konvensional dalam asumsi rasionalitas pelaku ekonomi. Kita ambil contoh, dua pelaku ekonomi, yaitu produsen dan konsumen. Dalam ekonomi konvensional,  produsen diasumsikan memaksimalkan laba yang tercapai ketika penerimaan marginal sama dengan biaya marginal (MR=MC). Produsen akan memproduksi barang yang menghasilkan keuntungan terbesar, terlepas apakah barang itu benar-benar diperlukan masyarakat atau tidak. Begitu pula dengan konsumen yang diasumsikan memaksimalkan kepuasan (utility). Konsumen akan mengonsumsi barang yang memberinya tingkat kepuasan tertinggi. Apakah barang yang dikonsumsi mendatangkan manfaat atau tidak, konsumen tidak peduli. Apa yang mereka pikirkan adalah saya harus puas, tidak ada pengecualian.

Apa implikasi rasionalitas yang keliru tersebut bagi kehidupan? Ternyata, kekeliruan ini mendatangkan mudharat tidak hanya dari segi ekonomi, tetapi juga sosial, lingkungan, kesehatan, dan dimensi kehidupan lainnya.  

 

Kita ambil contoh kasus perburuan sirip hiu. Sirip hiu diburu untuk dijadikan makanan seperti sup. Sup sirip hiu adalah hidangan tradisional asal Cina yang biasa disajikan pada acara-acara khusus, seperti pernikahan, jamuan makan dan merupakan hidangan yang tergolong mewah. Sup ini pertama diciptakan pada masa dinasti Song di Cina dan disajikan untuk keluarga kekaisaran. Selain itu, sup sirip ikan hiu dianggap memiliki khasiat bagi kesehatan. Tak heran jika ikan hiu terus-menerus diburu siripnya. Sirip ikan hiu memiliki harga jual yang sangat tinggi di Pasaran. Rata-rata, harga sirip ikan hiu dijual dengan harga US$400 per kg.

Praktik perburuan dan perdagangan sirip hiu merupakan praktik yang dilarang di banyak negara. Tetapi, di Amerika Serikat, perburuan sirip ikan hiu ilegal masih dilakukan dan pemburu menjualnya dengan harga US$10.000 hingga US$20.000 per sirip. Harga ini setara dengan Rp141 juta sampai Rp283 juta. Semakin langka jenis hiu, semakin mahal harganya. Sirip ikan hiu paus bagian dada dijual dengan harga US$20.000 dan sirip ikan hiu jenis basking shark dijual dengan harga US$50.000 per siripnya. Bisnis sirip ikan hiu secara global diperkirakan akan menghasilkan keuntungan antara US$540 juta hingga US$1,2 miliar.

Hingga saat ini, isu perburuan sirip hiu masih menjadi isu yang belum dapat diselesaikan. Berbagai regulasi dan peraturan telah diterapkan oleh berbagai negara untuk melarang perburuan sirip hiu. Namun, hasilnya nihil. Masih saja terdapat celah bagi oknum yang tidak bertanggungjawab.

Apa yang dapat kita tarik dari kasus diatas? Konsumen yang hanya mementingkan dirinya sendiri dengan mengonsumsi barang yang tidak seharusnya dikonsumsi serta produsen yang hanya ingin mencari laba sebesar-besarnya dengan mengeksploitasi alam tanpa henti akan mengganggu sistem keseimbangan alam tempat kita tinggal. Ekosistem rusak dan keanekaragaman hayati berkurang. Berdasarkan kasus diatas kita sudah dapat menyimpulkan bahwa rasionalitas pelaku ekonomi yang didasarkan pada self-interest tidak selaras dengan pencapaian tujuan ke-12 SDGs.

Akibat eksploitasi sumber daya yang berlebihan, bumi semakin rusak. Sayangnya, upaya pengerukan sumber daya tidak disertai dengan pemulihan terutama bagi sumber daya vital. Hal ini juga telah dijelaskan dalam surah Ar-Rum ayat 41 :

 “Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan akibat perbuatan tangan (maksiat)[1] manusia, supaya Allâh merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” [ar-Rûm/30:41]

Disinilah ekonomi Islam hadir dengan menawarkan konsep yang selaras dengan konsumsi dan produksi yang bertanggungjawab. Dalam ekonomi Islam, terdapat konsep yang bernama maslahah. Sederhananya, maslahah adalah mencari manfaat tetapi tetap dalam koridor Islam. Seorang konsumen tentu saja dapat memakan makanan yang ia inginkan selama dzat, cara memasak, dan cara memperolehnya halal serta tidak berlebihan dalam konsumsi. Konsumen ini tidak hanya mendapatkan kepuasan atas konsumsinya, melainkan juga berkah. Dalam Islam, konsumsi ditujukan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan duniawi saja. Lebih dari itu, konsumsi yang dilakukan dengan niat yang benar akan bernilai pahala disisi Allah SWT. Begitu pula dengan produsen yang memproduksi barang dan jasa untuk memaksimumkan keuntungannya namun tetap harus memproduksi barang yang tidak menzalimi masyarakat dan lingkungan. Produsen ini selain memperoleh laba juga mendapatkan berkah dalam menjalankan produksinya.

Apabila konsumen dan produsen bersama-sama mewujudkan konsep maslahah, sumber daya perekonomian akan digunakan hanya kepada barang-barang yang memang dibutuhkan masyarakat sehingga menekan eksploitasi alam yang selanjutnya akan mengurangi rusaknya ekosistem dan keanekaragaman hayati. Alhasil, pola konsumsi dan produksi yang bertanggungjawab dan berkelanjutan akan bermanfaat bagi anak cucu kita nantinya karena mereka tetap dapat menikmati sumber daya alam yang tengah kita manfaatkan.

Kesimpulannya adalah ekonomi Islam memiliki peran dalam pencapaian SDGs ke-12, yaitu konsumsi dan produksi yang bertanggungjawab. Melalui konsep maslahah yang digagas, diharapkan konsumen dan produsen lebih bertanggungjawab dalam menjalankan aktivitas ekonominya, baik konsumen dan produsen membangun pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan dengan menggunakan sumber daya perekonomian secukupnya agar dapat melestarikan sumber daya yang ada.

 

 

Referensi

 

Karim, A. A. (2018). Ekonomi Mikro Islami. Depok : Rajawali Press

Muhammad (2009). Ekonomi Mikro dalam Perspektif Islam. Yogyakarta : BPFE UGM

Times, I., & Zakiah, N. (2020). Mengerikan, 8 Dampak dari Perburuan Sirip Hiu yang Perlu Kamu             Tahu.               Retrieved               9               May               2020,               from https://www.google.com/amp/s/www.idntimes.com/science/discovery/amp/nena-zakiah- 1/dampak-perburuan-sirip-hiu

http://sdgsindonesia.or.id/

https://tafsirq.com/30-ar-rum/ayat-41

Leave a Reply