Ramadan and COVID-19 Effects to Islamic Capital Market

Ramadan and COVID-19 Effects to Islamic Capital Market

“If you invest in Islamic finance products, you tend not to be sensitive to developments in interest rates.” –Fares Mourad

     Pasar modal syariah menjadi alternatif investasi yang dioperasikan oleh perusahaan-perusahaan berkonsep Islam. Walaupun berbeda dengan pasar modal konvensional, terdapat “Hipotesis Efisiensi Pasar” yang berlaku di keduanya, yaitu pasar dikatakan efisien apabila nilai sekuritas setiap waktu mencerminkan semua informasi yang tersedia, sehingga harga suatu sekuritas berada pada tingkat keseimbangannya. Tak jarang muncul berbagai anomali pasar, salah satunya Ramadan Effect.

     Ramadan Effect merupakan anomali musiman yang menunjukkan adanya perbedaan rata-rata return (pengembalian) atau abnormal return di bulan Ramadan dibanding dengan bulan lain dalam satu tahun. Abnormal return dapat terjadi karena mekanisme pasar yang berubah ataupun kondisi suasana hati investor. Pada bulan Ramadan, sebagian besar umat Islam cenderung melambat aktivitasnya karena ibadah puasa. Mereka lebih banyak mengalokasikan waktu dan kegiatannya untuk pengembangan spiritual. Penelitian yang dilakukan oleh Bialkowski et al. (2012) dan Gavriilidis et al. (2015) menghasilkan bahwa Ramadan Effect memiliki dampak yang signifikan. Namun, ditemukan pula penelitian oleh para peneliti lainnya yang tidak membuktikan bahwa Ramadan Effect ini memiliki pengaruh yang kuat, salah satunya dalam jurnal Al-Tijary oleh Ahmad Faih (2019). Mengapa demikian?

     Ramadan Effect ini tidak selalu relevan di setiap negara. Bagi negara yang memiliki penduduk mayoritas muslim, Ramadan Effect lebih relevan karena aktivitas masyarakat yang merayakan Ramadan mempengaruhi aktivitas pasar. Sementara itu, bagi negara dengan penduduk minoritas muslim tidak memiliki aktivitas khusus dalam Ramadan karena mereka tidak menjalankan ibadah puasa.

    Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Sebagai negara dengan penduduk mayoritas muslim, apakah Ramadan Effect ini memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perekonomian Indonesia?

     Untuk menjawab pertanyaan tersebut, tentunya kita perlu mengkaji bagaimana kondisi perekonomian Indonesia sebelum datangnya bulan Ramadan dan ketika bulan Ramadan berlangsung. Indikator untuk melihat adanya perubahan return masyarakat, yaitu dengan mengamati pola pergerakan saham, salah satunya indeks saham syariah di Indonesia.

     Indeks saham syariah di Indonesia terbagi menjadi tiga, antara lain Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI), Jakarta Islamic Index (JII), dan Jakarta Islamic Index 70 (JII70). ISSI adalah seluruh saham syariah yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan masuk ke dalam Daftar Efek Syariah (DES) yang diterbitkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). JII terdiri dari 30 saham syariah dan JII70 terdiri dari 70 saham syariah paling likuid, keduanya tercatat di BEI.

     Bagaimana kaitan Ramadan Effect dengan indeks saham? Jika indeks saham saat bulan Ramadan stabil, maka Ramadan Effect tidak berpengaruh terhadap return investor. Sementara itu, jika indeks saham turun, maka membuktikan bahwa aktivitas investor menurun. Hal ini mengakibatkan volatilitas (fluktuasi pasar) menurun dan Ramadan Effect memiliki pengaruh yang signifikan terhadap return investor.

 

 

Grafik 1.1 Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia dalam ISSI (Rp Miliar)

Sumber : Statistik Saham Syariah (ojk.go.id) telah diolah kembali

 

    Berdasarkan grafik tersebut, Ramadan selama dua tahun berturut-turut, yaitu tahun 2018 dan 2019 menunjukkan Ramadan Effect mempengaruhi pasar modal syariah di Indonesia cukup signifikan. Pada tahun tersebut, pergantian bulan dari April hingga Mei (menjelang Ramadan) terdapat penurunan indeks saham yang membuktikan bahwa Ramadan Effect membuat pelaku pasar modal bersikap defensif sehingga membuat transaksi saham kurang menguntungkan.

      Bagaimana keadaan ketika COVID-19 mewabah di Indonesia? Apakah hal ini berpengaruh pada kondisi saham syariah di Indonesia saat bulan Ramadan?

      Saat ini bulan Ramadhan berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya karena aktivitas perekonomian masyarakat menjadi terhambat akibat penyakit coronavirus (COVID-19). Coronavirus merupakan wabah penyakit yang muncul pada akhir Desember 2019 di Wuhan, China. Virus ini berdampak besar terhadap kondisi negara-negara di dunia secara multidimensional. Di Indonesia, pandemi COVID-19 telah terjadi sejak bulan Maret 2020. Dengan adanya virus tersebut, tradisi Ramadan yang biasa dilakukan masyarakat menjadi terlewatkan, seperti ngabuburit, berbelanja takjil, salat tarawih berjamaah, buka puasa bersama, bermain petasan, dan mudik. Hal ini dikarenakan adanya peraturan dari pemerintah untuk tetap tinggal di rumah masing-masing untuk mencegah semakin bertambahnya penyebaran virus di Indonesia.

     Sebelum bulan Ramadan tiba, para ekonom sudah memproyeksikan bahwa permintaan domestik dan inflasi pada Ramadan 2020 akan tetap rendah. Tingkat konsumsi masyarakat menurun sejalan dengan pandemi COVID-19. Permintaan masyarakat terhadap makanan khas di bulan Ramadan, yaitu berbagai takjil dan kue kering mengalami penurunan. Selain itu, permintaan jasa pengiriman juga turun 30-50%.

      Sementara itu terkait dari sektor pasar modal, virus corona membuat investor berlarian dari pasar saham global dengan volatilitas yang tinggi. Artinya, market mood dapat membuat harga saham melonjak tinggi ataupun menurun drastis. Virus corona juga membuat kondisi mental investor menjadi panik dan membuat pasar saham global mendapat tekanan hebat karena adanya fluktuasi dan ketidakpastian perekonomian nasional maupun global.

 

Grafik 1.2 Kapitalisasi Bursa Efek Indonesia dalam JII, ISSI, dan JII70 (Rp Miliar) Tahun 2020

Sumber : Statistik Saham Syariah (ojk.go.id) telah diolah kembali

      Dalam grafik tersebut, terhitung sejak Januari 2020 hingga Maret 2020, indeks saham syariah Indonesia, baik dari Jakarta Islamic Index (JII), Jakarta Islamic Index 70 (JII70), maupun Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) mengalami penurunan yang signifikan dibandingkan pada tahun 2018 dan 2019. Menurut data ISSI dari OJK, tahun 2018 indeks saham pada bulan Ramadan sebesar 3.481.101,67. Pada tahun 2019 sebesar 3.626.641,43. Sementara itu, data terakhir menjelang Ramadan tahun 2020 jatuh menjadi sebesar 2.688.657,92. Hal ini disebabkan karena pandemi COVID-19 yang masih berlangsung.

      Berdasarkan data-data yang telah ditunjukkan di atas, Ramadan Effect sebagai suatu anomali pasar berpengaruh terhadap saham syariah di Indonesia. Dampak tersebut dikarenakan mekanisme pasar dan kondisi emosional investor yang tidak stabil. Indeks saham syariah di bulan Ramadan semakin menurun menunjukkan bahwa adanya perubahan return investor saat bulan Ramadan berlangsung. Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, Ramadan Effect terhadap saham syariah tahun 2020 ini lebih menguat akibat COVID-19 yang telah mewabah di dunia sehingga menyebabkan perekonomian nasional worse off.

 

Referensi :

Burhanuddin, C., 2020. Ancaman Krisis Ekonomi Global dari Dampak Penyebaran Virus Corona (COVID-19). AkMen, 17, pp.90 – 98.

Elena, M., 2020. Ekonom : Permintaan Diperkirakan Turun, Inflasi Terjaga Rendah Saat Ramadan. [online] Bisnis.com. Available at: <https://www.google.com/amp/s/m.bisnis.com/amp/read/20200409/9/1225127/ekonom-permintaan-diperkirakan-turun-inflasi-terjaga-rendah-saat-ramadan-> [Accessed 30 April 2020].

Otoritas Jasa Keuangan. 2020. Statistik Saham Syariah. [online] Available at: <https://www.ojk.go.id/id/kanal/syariah/data-dan-statistik/saham-syariah/default.aspx> [Accessed 26 April 2020].

Yasa, S., 2018. Pengaruh January Effect, Ramadhan Effect, Imlek Effect, Terhadap Return dan Trading Volume Activity di Bursa Efek Indonesia. Master of Management, pp.12 – 36.

 

Leave a Reply

Close Menu