QnA Puasa Ramadhan 1440 H

1. Bolehkah tidur setelah sahur dan sholat subuh?
Sebaiknya kita tiak tidur setelah subuh karena disaat itulah turun keberkahan dan rezeki.
Dari Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah ra berkata:
وَنَوْ مُ اُلصُّبْحَ ةُ يَُمْنَ عُ اُل رزْقَ؛ لَِ نُ ذَُ لكَُ وَُقْ تُ تَُطْل بُ فُ ي هُ اُلْخَ ليقَةُ أَُرْزَاقَهَا، وَُه وَُ وَُقْ تُ قُ سْمَ ةُ اُلَِْرْزَا ق، فَُنَوْ مهُ حرْمَا نُ إُ لُّ لعَا ر ضُأَُوُُْ
ضَ رورَة ،
“Tidur setelah subuh mencegah rezeki, karena waktu subuh adalah waktu mahluk mencari
rezeki mereka dan waktu dibagikannya rezeki. Tidur setelah subuh suatu hal yang dilarang
[makruh] kecuali ada penyebab atau keperluan.”
Sumber : Muslimafiyah.com

2. Kapansih batas waktu sahur?
Allah berfirman,
وَ كلُ وا وَُاشْرَب وا حَُت ى يَُتَبَي نَ لَُ ك م اُلْخَيْ ط اُلِْبَْيَ ض منَ اُلْخَيْ ط اُلَِْسْوَ د منَ اُلْفَجْ ر ثُ م أَُت مُّوا اُل صُيَامَ إُ لَى اُلل يْ لُ
“Makan dan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.
Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai datang malam.” (Q.S Al-Baqarah:187)
Maka ketika seseirang mendengar azan,wajib segera berpuasa ketika mendengar azan.jika
azannya dilakukan tepat waktu,tanpa mendahului (fajar).
Sumber / baca lebih lanjut: konsultasisyariah.com

3. Boleh ga mandi, sikat gigi dan keramas di siang hari?
Boleh ga sih sikat gigi saat puasa? Ini nih jawabnnya Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, bahwa
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Andaikan tidak memberatkan umatku, niscaya aku perintahkan mereka untuk gosok gigi setiap wudlu.” (HR. Al Bukhari)
Dari Syaikh Ibnu Baz juga pernah menyatakan bahwa “Tidak masalah, selama dijaga agar tidak tertelan pasta gigi nya.

Boleh keramas ga? biar seger gitu hehe
كان صُلى اُلله عُليه وُعلى آُله وُسلم يُصب اُلماء عُلى رُأسه وُهو صُائم مُن اُلعطش أُو مُن اُلحر
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyiramkan air ke atas kepala Beliau ketika sedang
puasa, karena kehausan atau terlalu panas. (HR. Ahmad, Abu Daud dengan sanad bersambung
dan shahih).
Nah nabi Muhammad aja pernah melakukan itu,yaa berarti boleh yaa kawan-kawan.

Boleh mandi ga sih? yaa tentunya boleh dong. Berikut hadisnya :
Dari Abu Bakar bin ‘Abdurrahman, dari sebagian Sahabat Nabi saw, ia berkata; Aku melihat Rasulallah saw menyuruh manusia untuk berbuka ketika dalam perjalanan dalam rangka penaklukkan kota Mekah (fathu Makkah). Beliau bersabda: ‘Berkuat-kuatlah kalian dalam menghadapi musuh.’ Namun Rasulallah saw tetap berpuasa. Abu Bakar bin ‘Abdurrahman berkata; Seseorang yang menceritakan kepadaku berkata: ‘Sungguh aku melihat Rasulallah saw menyiramkan air ke kepala beliau karena haus atau panas ketika berada di al-‘Araj, sedangkan beliau dalam kondisi puasa [H.R. Abu Dawud (2365), an-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra (3017), Ahmad (15903), dan Imam Malik dalam al-Muwattha’, I: 294).
Read more konsultasisyariah.com

4. Gimana sih hukum tidur sepanjang hari saat puasa?
Barang siapa yang menghabiskan waktu puasanya dengan tidur seharian maka puasanya sah jika dia berniat untuk puasa sebelum terbitnya fajar. Namun dia berdosa karena tidak mengerjakan shalat di waktu-waktunya dan berdosa karena tidak shalat jamaah jika ia memang termasuk orang yang wajib melaksanakan shalat jamaah. Orang tersebut telah meninggalkan dua kewajiban sehingga dosanya sangat besar. Kecuali jika hal tersebut bukan merupakan kebiasaannya dan orang tersebut berniat bangun untuk menegakkan shalat (namun ia ketiduran, pent), ketiduran ini sangat jarang terjadi, maka orang tersebut tidak berdosa.
Read more konsultasisyariah.com

5. Boleh ga sih makan sahur saat azan subuh dikarenakan telat bangun?
Ada beberapa dalil terkait hal ini, diantaranya adalah:
“Jika salah seorang di antara kalian mendengar azan sedangkan sendok terakhir masih ada di tangannya, maka janganlah dia meletakkan sendok tersebut hingga dia menunaikan hajatnya hingga selesai.” (HR Abu Daud). Beberapa pakar hadis menyebut sanad riwayat hadis ini adalah hasan (baik) diantaranya Al-Bani dalam kitabnya As Shahihah (no.1394) dan Syaikh Muqbil Al-Wadii’iy dalam Al-Jaami’ush-Shahiih (2/374).

Sedangkan yang menyebutnya sahih adalah Haakim dalam Al-Mustadrak (1/205). Walaupun ada ta’lil dari Abu Hatim yang mengakatan hadis ini dhaif, tapi para ulama tidak menerima alasan pendhaifannya. hadis ini bertentangan dengan ayat Alquran,
“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam (maghrib).” (QS. al-Baqarah[2]: 187).
Sejatinya hadis ini tidaklah bertentangan dengan ayat tersebut. Hadis ini sebagai rukhshah (keringanan) bagi orang yang sahur yang tengah mengunyah makanan atau yang ada di tangan yang belum terselesaikan. Berbeda halnya orang yang telah selesai makan sahur atau belum sahur sama sekali. Mereka tidak boleh lagi berniat untuk makan atau minum.
Jadi makan sahur saat azan shubuh bagi yang baru bangun tidak boleh yaa teman-teman!
Sumber: republika.co.id

6. Bagaimana hukum kalau kita tidak sengaja meminum air wudhu saat sedang berpuasa?
Ada beberapa dalil yang bisa dijadikan acuan untuk menjawab pertanyaan ini. Dari Laqith bin Shabrah ra. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sempurnakanlah wudhu’, dan basahi sela jari-jari, perbanyaklah dalam istinsyak (memasukkan air ke hidung), kecuali bila sedang berpuasa.” (HR Arba’ah dan Ibnu Khuzaemah menshahihkannya).
Meski hadits ini tentang istinsyaq (memasukkan air ke hidung), namun para ulama menyamakan hukumnya dengan berkumur. Intinya, yang dilarang hanya apabila dilakukan dengan berlebihan, sehingga dikhawatirkan akan terminum. Sedangkan bila istinsyaq atau berkumur biasa saja sebagaimana umumnya, maka hukumnya tidak akan membatalkan puasa.
Selain itu juga dalil yang berbunyi, Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang lupa sedang ia dalam keadaan puasa lalu ia makan atau minum, maka hendaklah ia sempurnakan puasanya karena kala itu Allah yang memberi ia makan dan minum.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 1933 dan Muslim no. 1155).
Dalil ini juga bisa dijadikan landasan karena tidak sengaja meminum air wudhu semakna dengan tidak sengaja (lupa) makan atau minum saat puasa. Sehingga apabila air wudhu terminum karena tidak sengaja maka hukumnya tidak membatalkan puasa.
Sumber: eramuslim.com

7. Apakah pingsan membatalkan puasa?
Pendapat dua ulama: Imam Syafii dan Imam Ahmad, bahwa orang yang pingsan ketika Ramadhan, tidak lepas dari 2 keadaaan:
Pertama, pingsan sehari penuh
Maksudnya, orang ini mengalami pingsan dari sebelum fajar, sampai terbenam matahari. Orang yang mengalami pingsan semacam ini puasanya tidak sah, dan wajib mengqadha di hari yang lain.
Dalil bahwa puasanya tidak sah, karena orang yang berpuasa wajib melakukan niat. Berniat meninggalkan makan dan minum serta semua yang membatalkan puasa. Allah berfirman dalam hadis qudsi:
“Orang yang berpuasa ini meninggalkan makan, minum, serta syahwatnya karena-Ku.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Pada hadis di atas, bentuk meninggalkan makan dan minum itu dikembalikan kepada orangnya. Artinya orang tersebut secara sengaja meninggalkan semua pembatal puasa. Sementara orang pingsan, tidak sadar, tentu saja tidak memiliki kesengajaan dalam meninggalkan hal-hal yang membatalkan puasa tersebut.
Sedangkan dalil wajibnya qadha, adalah firman Allah:
“Siapa yang sakit atau dalam kondisi safar, (sehingga dia tidak puasa) maka wajib mengqadha di hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah: 185).

Artinya, siapa saja yang tidak berpuasa, baik karena sakit atau safar, atau karena sebab lainnya maka dia wajib qadha di hari yang lain.Kedua, sempat sadar di siang hari, meskipun hanya sebentar.Pada kondisi ini puasanya sah, baik sadarnya di waktu pagi, siang, atau sore hari.
An-Nawawi mengatakan, ketika beliau menyebutkan perselisihan di kalangan ulama dalam masalah ini:
وأصح الأقوال : يش تط الإفاقة ف جز ء منه
Pendapat paling kuat, disyaratkan harus pernah sadar pada siang hari.
Maksudnya, syarat sahnya puasa orang yang pingsan, dia harus sadar beberapa saat di siang hari.
Alasan bahwa puasanya sah, ketika dia sadar di siang hari, karena orang ini telah mendapatkan waktu untuk menahan diri dari pembatal puasa secara umum. (Hasyiyah Ibnu Qosim untuk Ar-Raudhul Murbi’, 3:381)
Allahu a’lam
Disadur dari Fatwa Islam, no. 9245.
Sumber: konsultasisyariah.com