Produk, Pangsa Pasar, hingga merjer, Sudah Sampai Mana Perbankan Syariah di Indonesia?

Pada awalnya, fungsi – fungsi perbankan sudah cukup dikenal pada zaman Abbasiyah (908-932 M). Namun di masa modern, konsep dan istilah perbankan Syariah baru muncul pada tahun 1940-an, sementara realisasinya terwujud pada tahun 1963 di Mesir dengan nama Mit Ghamr Local Saving Bank yang menerapkan sistem bank tanpa bunga. Pada perkembangan lebih lanjut di tahun 1970-an, pendirian bank Syariah sudah tersebar luar ke beberapa negara. Negara – negara seperti Pakistan dan Sudan bahkan telah merombak seluruh sistem keuangan mereka menjadi sistem nir-bunga. Dengan kata lain, seluruh Lembaga keuangan di negara tersebut beroperasi tanpa menggunakan sistem bunga. Di tahun – tahun sekarang, negara – negara barat seperti Inggris, Denmark, dan Australia bahkan telah berusaha untuk menjadi pusat keuangan islam dunia melalui pengadaan bank Islam untuk bisa memberikan layanan – layanan perbankan yang sesuai dengan prinsip syariat Islam. Lalu, bagaimana dengan perbankan Syariah di Indonesia?

Awal mula kehadiran bank Syariah di Indonesia didahului oleh diskusi – diskusi bertemakan bank Islam sebagai pilar ekonomi Islam. Muncul lah Bait At-Tamwil Salman ITB di Bandung dan Koperasi Ridho Gusti di Jakarta sebagai permulaan kelembagaan yang sesuai Syariah. Baru pada 1 Nopember 1991, berdiri PT Bank Muamalat Indonesia sebagai bank Syariah pertama di Indonesia. Sejak tanggal 1 Mei 1992, Bank Muamalat resmi beroperasi dengan Rp 106.126.382.000,- sebagai modal awal. Data terakhir dari Otoritas Jasa Keuangan menyebutkan bahwa hingga saat ini, indusri perbankan Syariah di Indonesia dipenuhi oleh 12 Bank Umum Syariah (BUS), 22 Unit Usaha Syariah (UUS) yang berada di bawah Bank Umum Konvensional, serta 162 BPRS dengan total aset sebesar Rp 273,494 Triliun dengan pangsa pasar 4,61%.

Adapun produk dari bank Syariah yang umumnya menjadi pembeda dengan bank konvensional antara lain:

1. Mudharabah

Mudharabah merupakan suatu produk kerja sama dengan memberi pinjaman modal kepada mudharib (debitur). Terdapat perjanjian diantara kedua untuk mendapatkan laba usaha.

2. Musyarakah

Musyarakah merupakan perjanjian antara dua pihak atau lebih dengan pembagian laba dan kerugian didasarkan pada persentase dana yang dipakai sebagai modal usaha.

Produk simpanan juga memiliki kekhususan yang membedakan dengan bank konvensional, antara lain:

Produk simpanan atau tabungan dalam bank syariah memungkinkan untuk mengenakan biaya titipan kepada nasabah.  

1. Wadi’ah

Wadi’ah adalah titipan yang para nasabah dapat menitipkan barang atau uang dengan ketentuan biaya jasa titipan dari bank syariah sebagai pengelola titipan.

2. Mudharabah

Mudharabah adalah simpanan dari nasabah yang dapat digunakan oleh bank sebagai modal usaha dengan imbalan bagi hasil yang sudah.

 

Jika dilihat secara realistis, angka pangsa pasar di 4,61% seperti dilansir dari Investopedia.com termasuk sedikit. Bahkan cenderung terjebak di kisaran angka tersebut. Dari sisi produk, bank Syariah juga cenderung monoton. Rendahnya implementasi struktur sistem informasi akibat “kekalahan” dana dari bank konvensional disinyalir menjadi faktor utama. Hal – hal lain seperti terbatasnya sumber pendanaan yang memenuhi kriteria Syariah, rendahnya literasi keuangan Syariah, serta kurangnya kemitraan dengan sektor riil juga menjadi penyebab yang perlu diperhatikan.

Untuk mengatasi keterbatasan-keterbatasan yang menghambat pertumbuhan dari bank-bank syariah, terdapat salah satu ide yang saat ini tengah dibahas secara serius oleh pemangku kebijakan. Menteri BUMN, Erick Thohir, berencana untuk menerapkan penggabungan bank-syariah atau merger. Hal ini diharapkan dapat menjadi solusi dari lemahnya perkembangan industri perbankan syariah. Terdapat beberapa sasaran atau harapan dari hasil merger ini. Merger semakin mendekati salah satu prinsip ekonomi Syariah yaitu keadilan. BUMN Syariah di diharapkan dapat difokuskan untuk meningkatkan inklusi keuangan pada porsi pembiayaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dan tercapailah tujuan ekonomi syariah (maqasid Syariah). Dengan modal inti yang besar jika sudah terjadi merger, banyak tujuan yang memungkinkan untuk dapat dicapai.

Tidak hanya di Indonesia, bahkan juga di dunia, porsi pembiayaan bank Syariah rata-rata lebih dari 60%, terlebih bisa sampai 90%, adalah produk murabahah, kemudian baru diikuti produk musyarakah/ mudharabah (pembiayaan dengan ekuitas). Bank Syariah memilih lebih banyak untuk menawarkan produk murabahah dikarenakan risiko rendah, dan return yang tinggi. Murabahah merupakan produk debt-based, sehingga risiko pada produk itu terkesan sama seperti produk kredit (mengenai risiko kredit) jika gagal bayar. Di lain sisi jika bank Syariah memakai produk mudharabah/ musharakah (berbasis modal), maka karakteristik ketika melakukan pembiayaan tersebut adalah risiko dan biaya yang tinggi, sementara pengembalian rendah. Bank syariah diharapkan mampu memperbesar porsi pembiayaan mudharabah/ musharakah untuk menghasilkan multiplier effect. Mudharabah/musharakah menghasilkan kerja sama dari sisi modal (uang) dan usaha dari kedua pihak (bank dan peminjam uang). Kontribusi semacam ini yang dapat menciptakan lapangan-lapangan kerja, kemudian dalam jangka panjang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Peningkatan daya kompetitif dengan bank konvensional sehingga dapat meningkatkan pangsa pasar juga menjadi harapan dari merger. Hal ini dapat tercermin dari tingginya aset dan ekuitas hasil dari proses. Per Maret 2020, hasil penggabungan empat lembaga keuangan syariah ini akan menunjukkan aset sebesar Rp 236 triliun (BSM Rp 114 trilyun, BNI Syariah Rp 51 triliun, BRI Syariah Rp 42 triliun, dan BTN UUS Rp 28 triliun) atau dapat dikatakan mencakup 45% dari total aset industri bank syariah. Dengan jumlah tersebut, maka BUMN Syariah akan duduk di peringkat ke-7 sebagai bank dengan aset terbesar di Indonesia, dibawah BRI, Bank Mandiri, BCA, BNI, BTN dan Bank CIMB Niaga.

Pada dasarnya, harus diakui bahwa pertumbuhan industri bank Syariah setelah hampir 30 tahun tergolong lambat dan kurang kompetitif. Ditambah lagi literasi keuangan Syariah bagi penduduk Indonesia masih terbilang kurang mendorong untuk menambah konsumen target bagi bank – bank Syariah sendiri. Maka dari itu, proses merger ini diperlukan untuk kemajuan masa depan industri perbankan syariah Indonesia.

 

Daftar Referensi

www.investopedia.com

www.ojk.go.id

 

 

 

 

Leave a Reply