Perang Minyak Arab Saudi – Rusia – Overproduction yang berujung pada Kemudaratan: Sebuah Perspektif Islam

     Pada tanggal 21 April 2020, masyarakat dunia dikejutkan dengan jatuhnya harga minyak mentah dunia, WTI, yang mencapai -37 US dollar. Sebelumnya, harga WTI dan juga minyak mentah lain, Brent, juga sempat mengalami penurunan yang sangat drastis, meskipun penurunan harganya tidak mencapai titik minus. Penurunan harga minyak yang sangat fantastis ini terjadi akibat mewabahnya pandemi virus covid-19 sehingga menyebabkan turunnya permintaan terhadap minyak di seluruh dunia. Seakan kemunculan virus ini belum cukup mendramatisir keadaan, Arab Saudi dan Rusia tiba-tiba melakukan “perang” produksi minyak setelah negara-negara OPEC gagal mencapai kesepakatan dalam perundingan untuk mengurangi produksi minyak mentah. Alhasil, perang yang dilakukan oleh Arab Saudi dan Rusia itu membuat harga minyak menjadi semakin jatuh. Jika kita melihat dari kacamata ekonomi Islam, berlomba-lomba memproduksi minyak sebanyak-banyaknya seperti yang dilakukan kedua negara tersebut mencerminkan kegiatan produksi yang berlebih-lebihan dan keserakahan yang menimbulkan kerugian bagi banyak orang.

     Pada hari Jumat, 06 Maret 2020, negara-negara OPEC+ mengadakan pertemuan untuk mendiskusikan tentang pemotongan produksi minyak guna menopang harga di tengah pandemi Covid-19 ini. OPEC+ terdiri dari negara-negara anggota OPEC, seperti Arab Saudi dan Qatar, dan negara penghasil minyak yang bukan merupakan anggota OPEC, salah satunya ialah Rusia. Para anggota OPEC berencana untuk memangkas produksi minyak sebanyak 1,5 juta barel per hari. Namun, Rusia menolak rencana tersebut dan mengatakan akan tetap memproduksi minyak dengan jumlah yang sama. Tiga hari kemudian, Arab Saudi merespon penolakan tersebut dengan mendeklarasikan “perang” minyak terhadap Rusia. Negara tersebut memproduksi minyak lebih banyak daripada yang seharusnya, yaitu sebanyak lebih dari 10 juta barel per hari. Selain itu, Arab Saudi juga memberikan diskon harga minyak di pasar Asia, terutama Cina, sebesar 6 – 7 US dollar per barel. Hal ini dilakukan agar Arab Saudi bisa merebut pangsa pasar minyak dunia dari Rusia.

     Tidak mau kalah dengan Arab Saudi, Deklarasi tersebut dibalas oleh Rusia dengan ikut memperbanyak produksi minyaknya. Produksi minyak secara besar-besaran yang dilakukan oleh kedua negara tersebut mengakibatkan terjadinya over supply minyak di pasar minyak dunia yang tidak diikuti oleh peningkatan permintaan sehingga harga minyak pun jatuh.

     Kegiatan melebih-lebihkan produksi minyak mentah di saat hanya ada sedikit permintaan terhadap minyak merupakan kegiatan irasional yang tidak memperhatikan batas produksi output di dalamnya. Kegiatan ini termasuk ke dalam salah satu dari tujuh pemborosan kegiatan produksi, yaitu waste of overproduction[1]—berlebihan dalam memproduksi barang di kala tidak ada permintaan terhadap barang tersebut.

     Waste of production merupakan tindakan yang pada dasarnya tercela dalam perspektif Islam. Dalam Islam, berlebih-lebihan terhadap sesuatu terbagi menjadi ke dalam dua istilah, yaitu israf dan tabzir. Kata israf digunakan untuk mendeskripsikan kegiatan berlebih-lebihan pada sesuatu yang mubah/diperbolehkan oleh Allah, seperti konsumsi makanan halal, infaq, memberi makan anak yatim, dan lain-lain. Sedangkan tabzir adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan  pemborosan terhadap hal-hal yang tidak bermanfaat dan sia-sia. Berdasarkan kedua istilah tersebut, overproduction bisa dikategorikan ke dalam keduanya. Jika hasil produksi yang dihasilkan tidak memiliki tenggat waktu/masa kadaluarsa dan dapat untuk dipasarkan kembali, maka hal ini tidak dikategorikan sebagai tabdzir, melainkan hanya sebagai israf. Namun, dalam produksi barang yang memiliki masa kadaluarsa secara berlebihan di kala barang tersebut tidak dapat dipasarkan sebelum masa kadaluarsanya, maka tindakan tersebut dapat dikategorikan sebagai tabdzir. Minyak, seperti yang kita tahu, adalah hasil tambang yang dapat disimpan dalam waktu yang sangat lama sehingga di masa depan ketika kondisi dunia sudah lebih stabil pun, minyak masih dapat diperjualbelikan. Oleh karena itu, overproduction minyak dapat dikategorikan sebagai israf.

     Meskipun dikategorikan sebagai israf, bukan tadzir, tetap saja perang minyak Arab-Rusia ini banyak menimbulkan kerugian di sektor ekonomi. Dilansir dari Reuters, pada tanggal 09 Maret—hari di mana Arab Saudi menyatakan “perang” terhadap Rusia—harga minyak mentah jenis Brent, yang menjadi benchmark sebagian besar minyak di dunia, termasuk Indonesia, turun sebesar 29%. Sementara WTI, minyak mentah yang menjadi acuan negara-negara benua Amerika, mengalami penurunan harga sebesar 32%. Hal tersebut merupakan penurunan harga minyak terbesar sejak tahun 1991. Turunnya harga minyak tersebut mengakibatkan kerugian bagi banyak perusahaan minyak, terutama di Amerika Serikat. Saham perusahaan minyak besar seperti ExxonMobil dan Chevron mengalami penurunan sebesar 12%. Sementara itu, nasib perusahaan minyak lain seperti Pioneer Natural Resources dan OXY dinyatakan kolaps. Hal tersebut tentunya sudah tidak lagi sesuai dengan prinsip maqasid syariah dalam ekonomi islam yaitu salah satunya penjaagan terhadap harta (Maal). Tindakan over production yang menyebabkan harga menjadi jatuh juga akan diikuti penurunan revenue bagi perusahaan ataupun negara penghasil minyak bisa mengganggu kelangsungan produksi nantinya. Diantara banyaknya perusahaan yang mengalami kerugian, Pioneer Natural Resources dan OXY adalah yang terparah dan sudah dinyatakan kolaps.

     Seakan belum cukup, harga WTI kembali mengalami penurunan yang jauh lebih drastis pada tanggal 21 April. Harganya mengalami terjun bebas hingga sebesar 290%, melewati titik 0 dan mencapai -37 US dollar per barel. Meskipun konflik Arab Saudi-Rusia telah berakhir pada tanggal 12 April setelah Rusia sepakat untuk menurunkan produksi minyaknya, tetapi dampak dari konflik tersebut masih menjadi salah satu penyebab anjloknya harga minyak WTI.

Lalu bagaimanakah produksi yang baik dalam islam dan sesuai dengan Maqasid syariah?

     Produsen yang islami, tidak hanya mengutamakan mencari keuntungunkan dalam melakukan kegiatan produksinya, tetapi ingin mencapai mashlahah dan falah. Oleh karena itu, proses produksi dalam islam yang sesuai dengan maqasid syariah, diantaranya :

  1. Kegiatan produksi harus dilandasi nilai-nilai Islam dan sesuai dengan maqashid al-syari‟ah (agama, jiwa, akal, keturunan dan harta).
  2. Prioritas produksi harus sesuai dengan prioritas kebutuhan yaitu dharuriyyat, hajyiyat dan tahsiniyat[2]
  3. Kegiatan produksi harus memperhatikan aspek keadilan, sosial, zakat, sedekah, infak dan wakaf.
  4. Mengelola sumber daya alam secara optimal, tidak boros, tidak berlebihan serta tidak merusak lingkungan.
  5. Distribusi keuntungan yang adil antara pemilik dan pengelola, manajemen dan buruh.

     Kelebihan produksi minyak memang tidak membuat minyak terbuang sia-sia karena minyak bisa disimpan dalam waktu yang sangat lama, tetapi tidak berarti melakukan perang minyak di saat pandemi seperti ini adalah keputusan yang bijaksana. Masyarakat dunia sangat menyayangkan keputusan negara Arab yang memperbanyak produksi minyak di saat permintaan dan harga minyak sangat rendah, hanya karena ingin “memberi pelajaran” kepada Rusia dan untuk menguasai pangsa pasar minyak dunia. Begitu pula dengan Rusia yang juga malah ikut-ikutan menaikkan produksi minyaknya setelah Arab mendeklarasikan perang kepadanya. Ambisi kedua negara tersebut untuk saling mengalahkan satu sama lain mencerminkan keserakahan dan keegoisan manusia sehingga menimbulkan perselisihan dan kemudaratan bagi perekonomian. Ke depannya, semoga semua peristiwa yang telah berlalu ini dapat menjadi pelajaran bagi pihak-pihak yang terlibat dalam konflik maupun bagi para petinggi negara di seluruh dunia sehingga tidak ada lagi perselisihan yang dapat memperparah pandemi Covid-19 di tahun ini.

     Wallahu a’lam bishawab.

 

Referensi

Arab Saudi dan Rusia Deklarasikan Perang, Harga Minyak Mentah… (n.d.). Retrieved May 1, 2020, from https://ekbis.sindonews.com/berita/1550491/34/arab-saudi-dan-rusia-deklarasikan-perang-harga-minyak-mentah-ambruk-29

Kala Rusia-Arab Perang, Harga Minyak Anjlok. (n.d.). Retrieved May 1, 2020, from https://www.cnbcindonesia.com/market/20200315080526-17-144934/kala-rusia-arab-perang-harga-minyak-anjlok

“Perang Minyak”: Rusia Hantam AS – Halaman 2. (n.d.). Retrieved May 1, 2020, from https://finance.detik.com/energi/d-4935005/perang-minyak-rusia-hantam-as/2

Turmudi, M. (2017). Produksi Dalam Perspektif Ekonomi Islam. Islamadina, Volume XVI, 37–56. http://jurnalnasional.ump.ac.id/index.php/ISLAMADINA

Walenna, A. M. A. A., Wulantari, N., S, E. D., & T, H. A. (2018). Studi Komparatif Hukum Tabdzir dan 7 Waste dalam Proses Manufaktur untuk Meminimalkan Biaya ( cost ). 1(September), 1–6.

 

[1] Seven waste of productions menurut Gaspersz & Montana (2011) adalah: overproduction, delays, transportation, processes, inventories, motions, dan defect products.

[2] Menurut (Turmudi, 2017) yang dimaksud tingkatan kebutuhan diantaranya :

  1. Kebutuhan dharuriyyat (kebutuhan primer) merupakan kebutuhan yang harus ada dan terpenuhi karena bisa mengancam keselamatan umat manusia.
  2. Kebutuhan hajiyyat (kebutuhan sekunder) merupakan kebutuhan yang diperlukan manusia, namun tidak terpenuhinya kebutuhan sampai mengancam eksistensi kehidupan manusia menjadi rusak, melainkan hanya sekedar menimbulkan kesulitan dan kesukaran.
  3. Kebutuhan tahsiniyyat (kebutuhan tersier) merupakan kebutuhan manusia yang mendukung kemudahan dan kenyamanan hidup manusia.

 

Leave a Reply