Peningkatan Produktivitas Saat Ramadhan : Mitos atau Fakta?

     Produktivitas adalah suatu konsep yang menunjukan adanya kaitan antara hasil kerja dengan satuan waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan produk seorang tenaga kerja (Revianto, 1985). Dari definisi tersebut, kita dapat mengetahui bahwa waktu merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat produktivitas individu. Ketika memasuki bulan ramadan, umat islam diwajibkan untuk berpuasa menahan lapar dan dahaga selama satu bulan penuh. Kegiatan tersebut tentu akan berpengaruh pada produktivitas tenaga kerja karena banyak perusahaan ataupun instansi pemerintahan yang mengambil kebijakan untuk menyesuaikan target pada bulan ramadan. Beberapa contoh kebijakan tersebut diantaranya adalah mengurangi jam kerja dan memberikan lebih banyak hari cuti kerja. Secara umum, contoh kebijakan tersebut akan mengurangi produktivitas pada bulan ramadan.

     Bagaimana pendapat seorang muslim tentang perasaan mereka mengenai produktivitas kerja mereka saat Ramadhan?

 

Grafik 1. Produktivitas Pekerja Saat Ramadhan

The Survey of Productivity in Ramadhan : Strategies For The Modern Moeslim Work Environment (2011). Productive Muslim Ltd and Dinar Standard

     Grafik 1 menjelaskan bahwa mayoritas (77%) dari responden profesional yang bekerja mengatakan bahwa mereka mencoba untuk mempertahankan tingkat produktivitas kerja yang sama selama Ramadhan seperti yang mereka lakukan di luar Ramadhan, dan merasa bahwa pekerjaan harus terus tanpa gangguan. Namun, 15% dari mereka berpikir pekerjaan tidak harus menjadi prioritas, sementara sebagian kecil (3%) menjawab bahwa tidak ada yang bekerja selama bulan Ramadhan. Sementara itu, 18% responden merasa produktivitas mereka menurun selama bulan Ramadhan. Responden berasal dari warga negara yang termasuk kedalam kawasan OKI dan juga non-OKI (Amerika Serikat, India, dan Inggris).

     Apakah produktivitas perusahaan juga berkurang selama Ramadhan?

 

Grafik 2. Produktivitas Perusahaan Saat Ramadhan

The Survey of Productivity in Ramadhan : Strategies For The Modern Moeslim Work Environment (2011). Productive Muslim Ltd and Dinar Standard

     Grafik 2 menjelaskan bahwa mayoritas responden (72%) setuju bahwa produktivitas perusahaan mereka tidak berkurang selama Ramadhan, dan itu adalah bisnis mereka seperti biasanya. Seperti yang dapat diharapkan, respons ini lebih kuat dari responden yang tidak berbasis OKI (81% berbanding 61% dari responden berbasis OKI). Hal yang perlu diperhatikan adalah 26% responden berbasis OKI berpikir bahwa produktivitas perusahaan mereka tidak perlu berkurang selama Ramadhan.

     Lalu bagaimana dampak penurunan produktivtas saat Ramadhan terhadap ekonomi?

     Pada data sebelumnya dijelaskan bahwa Ramadhan tidak membawa dampak yang signifikan bagi masing-masing diri pekerja maupun perusahaan. Akan tetapi, hal tersebut terjadi pada negara-negara yang masyarakat muslimnya minoritas, sehingga produktivitas nya akan tetap berjalan seperti biasanya. Hal tersebut akan berbeda dengan negara-negara yang masyarakatnya merupakan mayoritas muslim seperti Indonesia dan juga Malaysia dimana pengurangan waktu kerja dan adanya hari cuti merupakan sesuatu yang wajib untuk dilakukan.

     Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dinar Standard dan productivemuslim.com pada tahun 2011, pengurangan waktu bekerja rata-rata selama satu jam di Indonesia akan berdampak pada kehilangan GDP sebesar 3,8% dari nilai rata-rata GDP per bulannya, yakni sekitar $2,265 juta. Berbagai perusahan menerapkan kebijakan yang bervariasi untuk  menyiasati pengurangan waktu agar iklim kerja tetap kondusif. Mengatur kembali jam kerja dengan waktu masuk lebih awal, meniadakan jam istirahat, dan menyesuaikan target kerja merupakan beberapa strategi bagi perusahaan untuk beradaptasi di bulan Ramadan.

     Strategi tersebut dapat dilaksanakan secara lebih efektif jika perusahaan memberikan insentif kepada para pekerja yang kita kenal dengan THR (Tunjangan Hari Raya). Insentif dapat berupa sejumlah uang yang diberikan kepada pekerja selain gaji pokok dan hal tersebut bertujuan untuk meningkatkan motivasi bagi pekerja sehingga menjadi lebih produktif. Menurut T. Hani Handoko (2002 : 176), insentif adalah perangsang yang ditawarkan kepada para karyawan untuk melaksanakan kerja sesuai atau lebih tinggi dari standar-standar yang telah ditetapkan. Dalam hal ini, terdapat korelasi positif antara pemberian insentif terhadap produktivitas pekerja. Pemberian insentif berupa THR dan bonus-bonus pada bulan ramadan merupakan salah satu cara untuk membuat para pekerja lebih produktif dan membuat perusahaan tetap dapat mencapai target yang telah ditentukan.

     Di sisi lain, pengurangan waktu bekerja akan membawa beberapa dampak positif diantaranya para pekerja dapat menjadi lebih fokus ketika mengerjakan tugas, tidak adanya jam istirahat untuk makan siang membuat mereka mengutamakan ibadah kemudian kembali fokus untuk bekerja. Mereka tidak melakukan hal yang sia-sia seperti menggosip, santai, dan merokok.  Mereka menjadikan ramadhan menjadi momen yang tepat bagi para pekerja untuk merefleksikan tujuan pribadi dan profesional mereka. Hubungan antar anggota keluarga juga semakin intensif karena tersedia waktu bersama yang lebih banyak dibanding biasanya.

     Ternyata pada saat Ramadhan banyak terjadi peristiwa sejarah yang luar biasa. Rmadhan merupakan bulan diturunkannya Al Quran. Salah satu peristiwa tersebut adalah perang badar, dimana perang tersebut merupakan konfrontasi pertama umat Islam melawan Quraisy yang kemudian dimenangkan oleh kaum muslimin. Selain itu, terdapat juga perang tabuk yang memerangi pasukan bizantium ketika mereka akan menaklukkan Hijaz. Fathu Makkah atau pembebasan kota Makkah juga terlaksana pada bulan ramadan ketika akhirnya kaum muslimin menguasai kota Makkah yang merupakan cita-cita sejak lama. Tak kalah penting, ramadan menjadi saksi sejarah puncak perjuangan rakyat Indonesia dalam melawan penjajah. Pada bulan tersebut, kemerdekaan Indonesia diproklamirkan oleh para pendiri bangsa.

     Ramadan sebagai bulan yang spesial memberikan pengaruh terhadap berbagai hal seperti produktivitas. Pada negara-negara dengan penduduk muslim yang minoritas, bulan Ramadhan ini tidak membawa dampak yang siginifikan terhadap produktivitas pekerja dan juga perusahaan. Pengurangan waktu kerja dan penambahan hari cuti yang terjadi di negara dengan penduduk mayoritas muslim secara umum akan mengurangi produktivitas, namun hal tersebut dapat disiasati dengan berbagai kebijakan seperti memberikan insentif agar meningkatkan motivasi pekerja sehingga lebih produktif. Berbagai peristiwa sejarah yang luar biasa juga terjadi selama bulan ini.

     Lantas, sepertinya tidak relevan ketika menjadikan ramadan sebagai alasan dalam penurunan produktivitas. Jika seseorang hanya bermalas-malasan dan banyak bermain saat luang, maka waktu hanya akan memotong tubuh tersebut laksana sebuah pedang sehingga peningkatan produktivitas saat Ramadan hanyalah sebuah angan. Peningkatan produktivitas akan menjadi keniscayaan apabila seseorang dapat menggunakan waktu yang terbatas secara efektif dan efisien dalam melakukan suatu kegiatan.

 

 

Referensi:

Attar, A. A., Gupta, A. K., & Desai, D. B. (2012). A study of various factors affecting labour productivity and methods to improve it. IOSR Journal of Mechanical and Civil Engineering (IOSR-JMCE)1(3), 11. Retrivied from http://www.academia.edu/download/43001858/3.pdf

Bayt.com poll: Ramadan increases productivity for 81.7 percent of professionals in the middle east. (2018, May 09). Al Bawaba. Retrieved from https://search.proquest.com/docview/2036092618?accountid=17242

Revianto, J. (1985). Produktivitas dan manajemen Seri Produktivitas IV. Jakarta: Lembaga Sarana Informasi Usaha dan Produktivitas.

Standard, D. (2011). 2011 Productivity in Ramadan Report. Retrivied from https://www.dinarstandard.com/wp-content/uploads/2013/05/2011-Productivity-in-Ramadan-Report.pdf

Leave a Reply

Close Menu