Pandangan Ekonomi Islam mengenai Time Value of Money: Sebuah Analisis Komprehensif

“Dalam hidup ini, satu-satunya hal yang pasti adalah ketidakpastian”

     Manusia selalu menghadapi ketidakpastian dalam hidupnya. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Kita tidak dapat menebak apakah 10 tahun kedepan penghasilan kita cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari atau tidak. Dengan adanya ketidakpastian, manusia terdorong untuk mengalokasikan sumber daya yang ia miliki untuk berjaga-jaga sekiranya di masa depan timbul suatu kondisi yang kurang menguntungkan.

     Salah satu cara manusia mengalokasikan sumber daya adalah dengan berinvestasi. Secara sederhana, investasi adalah komitmen menyisihkan sumber daya yang sebenarnya dapat kita gunakan saat ini untuk masa depan. Dengan berinvestasi, manusia mengharapkan tingkat pengembalian (return). Return yang dihasilkan dari berinvestasi dapat digunakan untuk menutupi beban yang tidak diperkirakan sebelumnya.

     Salah satu konsep yang menjadi landasan utama dalam berinvestasi adalah nilai waktu dari uang (time value of money). Time value of money mengatakan bahwa “a dollar received today is worth more than a dollar received later” (Crane, 1983). Satu dollar yang kita terima hari ini akan lebih bernilai daripada satu dollar yang kita terima di masa depan. Mengapa? Karena satu dollar yang kita terima hari ini dapat kita gunakan untuk berinvestasi sehingga mendapatkan return.

     Dalam ekonomi Islam, konsep nilai waktu dari uang ditolak. Alasannya, konsep ini mengasumsikan selalu terjadi positive return yang lazimnya tidak pernah terjadi dalam dunia bisnis. Dengan konsep ini, seseorang yang menabung di bank tidak perlu mengetahui untung-rugi bisnis yang dijalankan peminjam modal. Praktik ini dalam ekonomi Islam disebut al- ghunmu bi la ghurmi, yaitu menginginkan pengembalian tanpa menanggung risiko. Hal ini sangat dilarang dalam ekonomi Islam karena dalam berbisnis selalu ada potensi untung-rugi.

     Terlepas dari kritikan terhadap konsep nilai waktu dari uang, sebenarnya Islam tidak menolak keseluruhan konsep nilai waktu dari uang. Satu dollar yang kita terima hari ini tetap lebih berharga dari satu dollar yang kita terima di masa depan bahkan apabila tidak ada sistem perbankan yang memungkinkan seseorang untuk menabung. Alasannya, satu dollar yang kita terima hari ini dapat kita gunakan untuk berinvestasi di sektor riil dengan menjalin kerjasama berbasis bagi hasil seperti mudharabah dan musyarakah serta pembiayaan marjin seperti murabahah, salam, dan istishna. Dengan menerima satu dollar hari ini, sumber daya perekonomian lebih cepat diinjeksikan ke sektor riil sehingga terjadi peningkatan volume transaksi barang dan jasa yang akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

     Selain itu, kata “uang” dalam time value of money tidak dapat dimaknai secara sempit dengan hanya merujuk kepada uang, namun lebih tepat dimaknai sebagai sumber daya. Sumber daya yang kita miliki sangat banyak dan tidak terbatas pada uang, seperti keahlian, nama baik, paten, dll. Untuk menghilangkan kerancuan, konsep nilai waktu dari uang dapat kita modifikasi menjadi “sumber daya yang kita terima hari ini akan lebih bernilai daripada sumber daya yang kita terima di masa depan”. Dengan modifikasi seperti ini, jelaslah bahwa Islam sangat mendukung konsep time value of money (resources) karena dalam Al-Qur’an sendiri manusia sangat dianjurkan untuk menjalin kemitraan dengan berpedoman pada potensi untung-rugi. Allah berfirman dalam QS Al-Baqarah ayat 198 yang artinya “Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari ‘Arafat, berdzikirlah kepada Allah di Masy’arilharam. Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat”.

     Konsep time value of money mendapat penolakan dalam agama Islam karena adanya al-ghunmu bi la ghurmi. Namun sebenarnya konsep ini sangat sesuai dengan Islam, tergantung bagaimana cara kita mendefinisikan kata “uang”. Konsep uang dalam time value of money harus dimaknai sebagai sumber daya, bukan terbatas pada uang. Dengan mendefinisikan uang sebagai sumber daya, time value of money dapat diterima dalam Islam karena Islam sangat mendorong kemitraan dan usaha.


 

Referensi

Al-Quranul Karim

Adiwarman, K., 2010. Ekonomi Mikro Islami. 3rd ed. Jakarta: Rajawali.

Crane, D., Donaldson, G., Law, W., Piper, T., Hayes, S., Fruhan, W., Salter, M., Krasker, W. and Mullins, D., 1983. Financial Management. New York: Wiley.

Leave a Reply