Niat yang baik dan benar

Niat yang baik dan benar

  1. Niat tempatnya di hati

Imam An-Nawawi mengatakan:

“Niat dalam semua ibadah yang dinilai adalah hati, dan tidak cukup dengan ucapan lisan sementara hatinya tidak sadar. Dan tidak disyaratkan dilafalkan,…” (Raudhah at-Thalibin, 1:84)

Dalam buku yang sama, beliau juga menegaskan:

“Tidak sah puasa kecuali dengan niat, dan tempatnya adalah hati. Dan tidak disyaratkan harus diucapkan, tanpa ada perselisihan ulama…” (Raudhah at-Thalibin, 1:268)

Dalam I’anatut Thalibin –salah satu buku rujukan bagi syafiiyah di Indonesia–, Imam Abu Bakr ad-Dimyathi As-Syafii juga menegaskan:

“Sesungguhnya niat itu di hati bukan dengan diucapkan. Memaksakan diri dengan mengucapkan niat, termasuk perbuatan yang tidak butuh dilakukan.” (I’anatut Thalibin, 1:65).

Melihat dari tiga dalil diatas kita dapat mengetahui bahwa niat itu tempatnya ada di dalam hati, mengingat niat tempatnya di hati dan tidak disyaratkan untuk dilafakan dengan lisan.

  1. Inti dari niat

Mengingat niat adalah amal hati, maka inti niat adalah keinginan. Ketika kita menginginkan untuk melakukan seuatu maka kita sudah dianggap berniat. Baik amal ibadah maupun selain ibadah. Ketika kita ingin makan, kemudian mengambil makanan sampai memakannya, maka kita sudah dianggap niat makan. Demikian halnya ketika kita hendak shalat dzuhur, dan mengambil wudhu kemudian berangkat ke masjid di siang hari yang panas, sampai melaksanakan shalat, tentu kita sudah dianggap berniat.

Artinya modal utama niat adalah kesadaran. Ketika kita sadar dengan apa yang akan kita kerjakan, kemudian berkeinginan untuk mengamalkannya maka kita sudah dianggap berniat. Ketika kita sadar bahwa besok Ramadhan, kemudian bertekad besok akan puasa maka kita sudah dianggap berniat. Apalagi jika malam harinya melaksanakan taraweh dan makan sahur. Tentu ibadah semacam ini tidak mungkin kita lakukan, kecuali karena kita sadar bahwa besok pagi kita akan berpuasa Ramadhan.

  1. Niat puasa ramadhan

Di dalam puasa fardhu seperti puasa ramadhan, seorang muslim disyaratkan berniat sebelum masuk waktu subuh. Hal ini berdasarkan hadis dari Hafshah radhiallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa yang belum berniat puasa di malam hari (sebelum subuh) maka puasanya batal.” (HR. An Nasa’i dan dishahihkan Al Albani)

Dalam riwayat yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa yang belum berniat puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya.” (HR. Abu Daud, Ibnu khuzaimah, baihaqi)

Dari dalil diatas dapat kita ketahui batas niat puasa wajib seperti puasa ramadhan adalah sampai sebelum waktu shubuh.

  1. Apakah boleh niat puasa untuk sebulan penuh?

Pada prinsipnya, ketika kita sadar bahwan besok pagi ingin berpuasa, maka kita sudah dianggap berniat. Apalagi jika kita juga makan sahur. Bisa dipastikan kita sudah niat. Namun bolehkah seseorang melakukan niat di awal Ramadhan untuk berpuasa penuh satu bulan? Sehingga andaipun dia lupa atau ada faktor lainnya, sehingga tidak sempat berkeinginan puasa, tetap sah puasanya. Dalam hal ini ulama berbeda pendapat. Insya Allah pendapat yang kuat adalah boleh. Cukup dalam seluruh bulan Ramadhan kita berniat sekali di awal bulan, karena walaupun seseorang tidak berniat puasa setiap hari pada malam harinya, semua itu sudah masuk dalam niatnya di awal bulan. Tetapi jika puasanya terputus (memutuskan niatnya dengan berbuka) di tengah bulan, baik karena bepergian (safar), sakit dan sebagainya, maka dia wajib berniat puasa lagi ketika udzurnya sudah tidak ada , karena dia telah memutus bulan Ramadhan itu dengan meninggakan puasa karena perjalanan, sakit dan sebagainya.

Ganjaran bagi orang yang berpuasa

Tahukah kamu bahwa ibadah puasa memiliki keistimewaannya sendiri dibandingkan dengan ibadah-ibadah lainnya? Ganjaran yang didapatkan orang yang berpuasa pun tak main-main, diantaranya ialah:

  1. Pahala yang berlipat ganda dan tak berbatas

Salah satu keistimewaan bulan Ramadhan ialah sebagai bulan dengan banyaknya ladang pahala. Pahalanya pun tak dibatasi dengan angka, sebagaimana Rasulullah SAW., mengabarkan,

“Setiap amalan kebaikan manusia akan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat ganjaran, hingga sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman, “Kecuali puasa.  Pahala puasa adalah untuk-Ku. Dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Ia telah meninggalkan syahwat dan makannya karena-Ku.” (HR. Muslim).

 

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan dalam kitabnya, Majalis Syahru Ramadhan, bahwasanya ibadah puasa mengandung tiga jenis kesabaran, yaitu: (1) sabar dalam ketaatan kepada Allah, (2) sabar untuk tidak melakukan larangan-larangan-Nya, (3) dan sabar atas takdir-takdir Allah, seperti rasa lapar, haus, fisik dan jiwa yang lemah.

 

Karena puasa mengandung tiga jenis kesabaran tersebut, maka orang yang berpuasa dapat mencapai derajat orang-orang yang sabar. Allah berfirman,

“Sesungguhnya hanya orang-orang bersabar, yang mendapatkan pahala tanpa batas.” Q.S. Az-Zumar: 10.

Leave a Reply