Makes The Impossible Possible

Makes The Impossible Possible

Makes The Impossible Possible

Sering kita dihadapi dengan tugas ataupun amanah yang menumpuk. Sering juga karena hal itu kita menjadi terlalu fokus pada urusan duniawi. Urusan-urusan duniawi yang menumpuk itu membuat kita tidak berpikir jernih, bahkan sampai tugas yang sederhana menjadi “terlihat” mustahil untuk diselesaikan. Lalu apa yang terjadi? Kita mengerjakan urusan-urusan dunia itu dengan panik dan hati yang tidak tenang.  Manusia akan cenderung melakukan pekerjaannya secara buruk ketika dilanda panik dan hati yang gelisah. Lalu bagaimana pandangan Islam dalam menghadapi kepanikan itu? Mari kita cermati kisah berikut.

Alkisah

Misalkan, si Mali, mahasiswa FEB UI yang sedang dilanda banyak tugas akhir. Deadline tugas tinggal beberapa hari lagi. Mali mengerjakannya dengan sangat maksimal. Seluruh tenaganya, waktunya, bahkan uangnya ia curahkan untuk menyelesaikan tugasnya. Tapi tugasnya ini tak kunjung selesai. Mali merasa kesulitan dalam mengerjakannya. Sampailah di titik jenuh: ketika dia kerjakan tugasnya justru sulit, ketika dia tinggalkan justru terbengkalai.

Untungnya Mali punya teman yang bijak yakni Anto. Dia menasihati Mali dengan ayat berikut

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (At-Talaq: 2-3)

Mali pun menyisihkan waktu, tenaga, dan uangnya untuk ibadah. Hal yang terdengar tidak logis mungkin, namun dia tetap yakin bahwa dengan menghadirkan Allah ini tugas-tugasnya bisa selesai lebih mudah.

Benar saja, ternyata dengan tidak disangka-sangka tugas-tugasnya menjadi lancar. Makalah-makalah yang tadinya tidak ada bahannya perlahan dia temukan. Pelajaran-pelajaran yang ia sulit untuk memahaminya tiba-tiba menjadi mudah untuk dipahami. Bahkan pada presentasi-presentasinya lisannya menjadi mudah untuk menyampaikan materi-materinya. Hal yang tadinya tidak mungkin untuk diselesaikan sekarang menjadi semudah membalikkan telapak tangan.

Cerita yang absurd? Oh tidak, kisah itu pernah terjadi. Ya pernah terjadi pada diri penulis sendiri. Apakah hanya itu saja kisah ketika Allah menolong hambanya menyelesaikan tugas yang “terlihat” mustahil? Oh tidak juga. 17 Ramadhan tahun 2 Hijriah terjadi perang Badar, 300 pasukan muslim melawan 1000 pasukan kafir Quraisy, dimenangkan oleh pasukan muslim. 17 Agustus 1945, Proklamasi kemerdekaan, Ir. Soekarno memproklamasikan kemerdekaan walau dirinya sakit dan saat itu juga bertepatan dengan bulan Ramadhan, ditambah pasukan asing yang masih menghantui untuk merebut Indonesia. Banyak lagi kisah seperti ini yang sudah terjadi di sekitar kita, mulai dari skala kecil sampai skala besar, mulai dari zaman Rasulullah, sampai zaman sekarang. Kisah itu tetap ada, janji itu tetap ada, tinggal kita, maukah kita percaya?

Menghadirkan Allah dalam Menjalankan Urusan Kita

Pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah tersebut adalah bagaimana Mali mau dan bisa menyisihkan waktu, tenaga, bahkan uangnya untuk ibadah ditengah-tengah kesibukannya. Mali menjadi yakin bahwa sesungguhnya pertolongan Allah amat dekat dan amat nyata. Mali menghadirkan Allah dalam menyelesaikan tugasnya. Mali yakin bahwa dengan dia meluangkan waktunya untuk Allah, maka Allah akan membantunya. Keyakinannya inilah yang membuat Allah hadir untuk membantunya menyelesaikan tugas-tugasnya.

Kita sering berzikir tentang Keagungan Allah, betapa Allah Maha Penolong, Maha Pengasih, Maha Penyayang. Lalu apakah sampai itu saja kita berzikir? Hanya sekedar pelafalan? Tentu tidak. Dengan meyakini Asma Allah dan mengaplikasikannya dalam hiduplah sebaik-baik berzikir. Ketika kita tahu bahwa Allah itu maha baik maka yakinlah bahwa memang Dia maha baik. Ketika kita tahu bahwa Allah akan menolong hambanya, maka yakinlah bahwa Allah akan menolong hambanya. Maka bertakwalah kepada Allah. Kembali kepada-Nya. Sujudlah kepadanya, Bermesra-mesraanlah bersamanya dalam doa-doa yang kalian panjatkan kepada-Nya. Maka hati, pikiran, jiwa, dan raga kita akan tenang.

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d: 28)

Islam adalah agama yang Ilmiah. Artinya apa? Hanya dengan membuktikannyalah kita menjadi yakin. Hanya dengan melaksanakannyalah kita menjadi yakin. Tulisan ini tidak akan menjadi apa-apa bagi teman-teman sekalian bila kalian tidak melaksanakan nilai-nilai yang ada dari tulisan ini. Urusan-urusan kalian tidak akan langsung dipermudah bila kalian tidak mencoba untuk bertakwa kepada Allah. Maka lapangkanlah waktu mu untuk Allah, maka Allah akan melapangkan urusan mu.

Epilog

Cerita tadi mungkin terdengar absurd, dan bahkan tidak masuk akal. Namun sebetulnya kisah itu adalah kisah nyata yang sering kita jumpai pada orang-orang di sekitar kita. Banyak dari kita yang sudah membuktikan janji-janji Allah yang terdapat dalam Al-Quran dan Hadist. Jika kalian tertarik untuk mendengar atau sharing-sharing kisah kalian yuk ikut mentoring agama dari FSI FEB UI. Di sini kita tidak hanya bisa sharing-sharing cerita dan pengalaman kita, namun bisa juga bertemu dengan  teman-teman yang saling menjaga dan mengingatkan dalam kesabaran dan kebaikan layaknya Anto pada Mali tadi. Jadi cus langsung aja join mentoring dengan daftar di yukmentoring.com. Sampai bertemu lagi kawan!

Leave a Reply