Jawaban Ask FSI | Adakah Jawaban Pertanyaan Kamu Disini?

Jawaban Ask FSI | Adakah Jawaban Pertanyaan Kamu Disini?

JAWABAN ASK FSI

Pertanyaan 1:

Mengapa Allah menciptakan orang-orang dengan defisiensi psikologi, dalam hal ini ada yang keterbelakangan mental maupun tidak waras dll, Sebenarnya apa sih yang hendak Allah sampaikan kepada kita?

Jawaban:

Pertama itu kita tidak bisa menanyakan tentang apa yang sudah menjadi kehendak Allah SWT karena Allah yang berkuasa atas segala makhluknya. kita adalah orang yang beriman kepada Allah maka wajib bagi kita untuk mengimani dengan sepenuh hati keyakinan dan kebenaran apa yang telah Allah ciptakan atas segala kuasanya.

Lalu bisa jadi Allah mengehendaki ini agar dalam kehidupan kita menjadi lebih bersyukur dan menunjukkan bahwa hal ini sebagai ujian bagi kita untuk menjadi lebih baik lagi dalam beribadah dan beramal. Lebih detailnya seperti ini:

Kenapa Allah menciptakan ada orang yang terlahir cacat, keterbelakangan mental, kaya, miskin, berpenyakit, dll?

Allah berfirman dalam Q.S 8 ayat 28 dan Q.S 2 ayat 155

وَا عْلَمُوْۤا اَنَّمَاۤ اَمْوَا لُكُمْ وَاَ وْلَا دُكُمْ فِتْنَةٌ ۙ وَّاَنَّ اللّٰهَ عِنْدَهٗۤ اَجْرٌ عَظِيْمٌ

“Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar.”

(QS. Al-Anfal 8: Ayat 28)

Allah SWT berfirman:

وَلَـنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَـوْفِ وَا لْجُـوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَ مْوَا لِ وَا لْاَ نْفُسِ وَا لثَّمَرٰتِ ۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ ۙ

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar,”

(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 155)

Allah menguji setiap orang dengan cara yang berbeda-beda. Tergantung pada ujiannya memiliki derajat dan ukurannya tersendiri. Seperti halnya sebuah ujian, ujian yang sulit tentu koreksinya akan lebih mudah tapi ujian yang ringan mungkin akan lebih ketat koreksinya dan menjustifikasikanya.

Tentunya sebuah ujian itu tidak akan pernah ada yang sama pertanyaannya, tentu akan ada perbedaan dan tingkatkaannya yang berbeda. Jika semua ujian sama, maka dimana letak ujiannya?

Sama hal nya juga dengan orang tua yang dikehendaki Allah anaknya memiliki penyakit langka padahal orang tua tersebut adalah orang tua yang sholeh selalu sholat 5 waktu dan rajin beribadah. Mungkin Allah menjadikan hal ini sebagai ujian bagi mereka, semakin sulit ujiannya maka semakin besar pahala yang akan mereka dapatkan. Allah SWT berfirman:

اُولٰٓئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ حَقًّا ۗ لَهُمْ دَرَجٰتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَّرِزْقٌ كَرِيْمٌ ۚ

“Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka akan memperoleh derajat (tinggi) di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.”

(QS. Al-Anfal 8: Ayat 4) (lihat ayat 3 nya juga ya)

Jadi Allah menguji setiap orang berbeda beda tergantung pada ujiannya koreksinya ringan atau ketat dan Allah tidak akan menzalimi sedikitpun apa yang telah dilakukan oleh hambanya (Q.s 4 ayat 40 dan Q.s 3 ayat 185). Segala ujian akan berakhir di hari penghakiman.

Jika kita sebagai hamba yang berada di jalan yang lurus, musibah yang di dapatkan akan menjadi ujian bagi kita. Tapi, jika kita berada di jalan yang salah musibah akan menjadi hukuman bagi kita. Begitupun sebaliknya, ketika kita mendapatkan kebaikan dalam hidup itu bisa jadi sebagai keberkahan yang Allah berikan atau ujian. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Isra’ 17: Ayat 21

اُنْظُرْ كَيْفَ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍ ۗ وَلَـلْاٰ خِرَةُ اَكْبَرُ دَرَجٰتٍ وَّاَكْبَرُ تَفْضِيْلًا

“Perhatikanlah bagaimana Kami melebihkan sebagian mereka atas sebagian (yang lain). Dan kehidupan akhirat lebih tinggi derajatnya dan lebih besar keutamaannya.”

Selain itu bisa pertanyaan lagi muncul, Mengapa Allah menguji hambanya dngan cara yang berbeda-beda?  kenapa kita di ciptakan? Apakah untuk kesenangan Allah atau apakah untuk Allah mengamati kita dari atas?

Ketahuilah bahwa, semua benda yang ada di langit dan di bumi gunung, pohon, binatang semua mereka muslim. Muslim yang artinya tunduk kepada Allah (Q.s Al-Hajj ayat 18).

Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang terbaik. Kenapa terbaik? Karena Allah telah memberikan kebebasan kepada manusia untuk melakukan kehendaknya. Allah memberikan manusia kehendak bebas bisa mematuhi atau menentang Allah.  Sedangkan para Malaikat tidak memiliki kehendak bebas jadi mereka adalah makhluk selalu mematuhi Allah, makhluk yang paling mulia.

  • Jika setelah kehendak bebas yang Allah berikan kepada kita. Kita memiliki pilihan untuk mematuhi dan menentang Allah.
  • Jika kita memilih untuk patuh terhadap Allah dan menjalankan ujian yang Allah berikan kepada kita dengan keimanan dan ketakwaan, kita manusia akan menjadi makhluk yang lebih mulia daripada malaikat.

Allah SWT berfirman:

وَمَنْ يَّأْتِهٖ مُؤْمِنًا قَدْ عَمِلَ الصّٰلِحٰتِ فَاُ ولٰٓئِكَ لَهُمُ الدَّرَجٰتُ الْعُلٰى ۙ

“Tetapi barang siapa datang kepada-Nya dalam keadaan beriman, dan telah mengerjakan kebajikan, maka mereka itulah orang yang memperoleh derajat yang tinggi (mulia),”

(QS. Ta-Ha 20: Ayat 75)

Tapi jika kita menentang Allah berada pada jalan yang salah tidak bersyukur atas ujian yang diberika, maka kita akan menjadi lebih hina seperti iblis.

Allah SWT berfirman:

وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنٰهُ بِهَا وَلٰـكِنَّهٗۤ اَخْلَدَ اِلَى الْاَ رْضِ وَا تَّبَعَ هَوٰٮهُ ۚ فَمَثَلُهٗ كَمَثَلِ الْـكَلْبِ ۚ اِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ اَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ۗ ذٰلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰ يٰتِنَا ۚ فَا قْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ

“Dan sekiranya Kami menghendaki niscaya Kami tinggikan (derajat)nya dengan (ayat-ayat) itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan mengikuti keinginannya (yang rendah), maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya dijulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya ia menjulurkan lidahnya (juga). Demikianlah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir.”

(QS. Al-A’raf 7: Ayat 176)

Sebenarnya manusia lah yang memilih sendiri jalan untuk mengikuti uiian yang telah Allah berikan. Allah telah berfirman dalam Q.s Al-Ahzab ayat 72

Allah SWT berfirman:

اِنَّا عَرَضْنَا الْاَ مَا نَةَ عَلَى السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ وَا لْجِبَا لِ فَاَ بَيْنَ اَنْ يَّحْمِلْنَهَا وَاَ شْفَقْنَ مِنْهَا وَ حَمَلَهَا الْاِ نْسَا نُ ۗ اِنَّهٗ كَا نَ ظَلُوْمًا جَهُوْلًا ۙ

“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh,”

(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 72)

Hal ini semua Allah kehendaki karena Allah ingin memberikan kesempatan kepada kita untuk perbedaan derajat, untuk mendapatkan pada tingkat derajat mana posisi kita berada. Hal ini bukan karena Allah ingin bersenang-senang, sehingga dari ini semua dapat membuktikan bahwa nyata dan benar sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahiim Allah, bahwa Allah sangat Maha Pengasih dan Maha penyayang kepada manusia, terlebih bila kita beriman dan bertakwa kepada Allah. Sekarang tergantung kita apakah mau mengikuti perintah Allah atau tidak.

Allah SWT berfirman:

اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَ هَا جَرُوْا وَجَاهَدُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ بِاَ مْوَا لِهِمْ وَاَ نْفُسِهِمْ ۙ اَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللّٰهِ ۗ وَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْفَآئِزُوْنَ

“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dengan harta dan jiwa mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah. Mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan.”

(QS. At-Taubah 9: Ayat 20)

Jadi dimana letak kurang dan tidak adilnya Allah jika kita masih menganggap ujian sebagai beban hidup? Yuk kita pelajari Al-Qur’an lebih dalam lagi, tidak hanya sekedar belajar tetapi juga memahami dan paling penting mengamalkan Qur’an. 😊

Wallahu’alam. Semua yang benar datang nya dari Allah dan Manusia adalah makhluk bodoh yang masih perlu banyak belajar.

 

Pertanyaan 2:

Jika seorang musafir sampai disuatu rumah, kemudian didalam rumah tersebut ada yang sedang sholat isya berjamaah. Maka ia harus sholat apa dulu?

Jawaban:

Jika seorang musafir telah selesai dari perjalanannya kemudian ia mendapati orang-orang yang sedang sholat isya berjamaah maka wajib baginya untuk mengikuti sholat isya tersebut dengan berjamaah. Karena sesungguhnya sholat berjamaah tetap disyariatkan bagi laki-laki. Bahkan para ulama mengatakan bahwa hukum shalat jamaah tidak berubah baik ketika safar maupun muqim. Berdasarkan dalil berikut:

Allah berfirman:

﴿وَاِذَا كُنْتَ فِيْهِمْ فَاَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلَوٰةَ فَلْتَقُمْ طَآ ئِفَةٌ مِّنْهُمْ مَّعَكَ وَلْيَأْخُذُوۤاْ اَسْلِحَتَهُمْ ﴾

Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama mereka, maka hendaklah  segolongan dari mereka berdiri (sholat) besertamu dan menyandang senjata. Q.S An-Nisa; 102.
Baca selengkapnya di https://muslimah.or.id/311-shalat-seorang-musafir.html

Selain itu, menurut pendapat yang paling kuat diantara para ulama, hukum sholat jamaah adalah wajib bagi kaum lelaki. Hal ini dikatakan oleh Imam Syafii “Adapun sholat jamaah, aku tidaklah memberi keringanan bagi seorang pun untuk meninggalkannya kecuali bila ada udzur”. Syeikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz juga mengatakan bahwa “Apabila musafir berada di perjalanan, maka tidak mengapa dia sholat sendirian. Adapun jika telah sampai negeri tujuan, maka janganlah ia sholat sendiri. Akan tetapi, hendaknya ia sholat berjamaah bersama jamaah di negeri tersebut, kemudian ia menyempurnakan rakaatnya (tidak meng-qashar). Adapun jika dia melakukan perjalanan sendirian dan telah masuk waktu sholat, maka tidak mengapa ia sholat sendirian ketika itu dan dia mengqashar sholatnya.”

Dalam sumber yang lain, mengatakan bahwa ketika seorang musafir menjadi seorang makmum dari imam yang berstatus muqim, maka musafir tersebut tidak boleh meng-qashar sholatnya. Ia wajib melaksanakan sholatnya dengan sempurna dengan tidak meringkas sholatnya.

Dari Musa bin Salamah, beliau mengatakan,

كُنَّا مَعَ ابْنِ عَبَّاسٍ بِمَكَّةَ فَقُلْتُ إِنَّا إِذَا كُنَّا مَعَكُمْ صَلَّيْنَا أَرْبَعاً وَإِذَا رَجَعْنَا إِلَى رِحَالِنَا صَلَّيْنَا رَكْعَتَيْنِ قَالَ تِلْكَ سُنَّةُ أَبِى الْقَاسِمِ -صلى الله عليه وسلم-.

“Kami pernah bersama Ibnu ‘Abbas di Makkah. Kemudian Musa mengatakan, “Mengapa jika kami (musafir) shalat di belakang kalian (yang bukan musafir) tetap melaksanakan shalat empat raka’at (tanpa diqoshor). Namun ketika kami bersafar, kami melaksanakan shalat dua raka’at (dengan diqoshor)?” Ibnu ‘Abbas pun menjawab, “Inilah yang diajarkan oleh Abul Qosim (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam).”

Namun, dalam kasus ini, kita asumsikan si musafir belum sholat magrib. Maka setelah ia menunaikan sholat isya berjamaah ia kemudian melaksanakan sholat magrib. Sholat ini biasa kita kenal dengan istilah jamak. Untuk urutan melaksanakan sholat jamak ini ulama berbeda pendapat. Ada yang mengatakan bahwa sholatnya wajib mendahulukan sholat yang pertama lalu kemudian diikuti sholat berikutnya. An-Nawawi menyebutkan:

قال الشافعي والاصحاب إذا اراد المسافر الجمع في وقت الاولي اشترط لصحته ثلاثة امور احدها الترتيب فيجب تقديم الاولي لان الثانية تابعة لها فوجب تقديم المتبوع ولان النبي صلي الله عليه وسلم جمع هكذا وقال صلى الله عليه وسلم ” صلوا كما رأيتموني أصلي ” فلو بدأ بالثانية لم يصح وتجب اعادتها بفعل الاولي جامعا
Imam Syafii dan  para ulama Syafiiyah mengatakan, apabila seorang musafir melakukan jamak diwaktu yang pertama, ada tiga syarat agar jamaknya sah. Yang pertama, tertib (sesuai urutan sholat). Wajib mendahulukan sholat pertama, karena sholat yang kedua sifatnya mengikuti, sehingga harus mendahulukan yang diikuti.

Baca selengkapnya di:

https://konsultasisyariah.com/31355-jamak-takhir-mana-shalat-yang-didahulukan.html

Hal diatas jika sholat yang dilakukan diawal waktu. Namun bagaimana halnya dengan jamak takhir?

Ada ulama yang berpendapat bahwa Jamak takhir tidak wajib tertib sesuai urutan shalat. Artinya, boleh saja dikerjakan tanpa memperhatikan urutan sholat. Hal ini merupakan pendapat Syafiiyah.

Abdurrahman Al-Jaziri menyebutkakn pendapat Syafiiyah:

أما الترتيب والموالاة بين الصلاتين في جمع التأخير فهو مسنون وليس بشرط
Tertib dan muwalah (berkelanjutan) ketika mengerjakan kedua sholat dalam jamak takhir hukumnya anjuran dan bukan syarat. (Al-Fiqh ala Al-Madzahib Al-Arba’ah, 1/441).

Wallahu’alam. Semua yang benar datang nya dari Allah dan Manusia adalah makhluk bodoh yang masih perlu banyak belajar.

Leave a Reply

Close Menu