Islam dan Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia

Islam dan Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia

Tepatnya tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia secara resmi mendapatkan kemerdekaannya. Kemerdekaan ini ditandai oleh dibacakannya naskah proklamasi yang dipimpin oleh Ir. Soekarno pada pukul 10.00 WIB. Tiga abad lebih terkungkung oleh kekuatan imperialisme Barat, ditambah tiga tahun lebih dijajah oleh saudara se-Asia, momen kemerdekaan  menjadi momen yang paling  ditunggu-tunggu oleh seluruh rakyat Indonesia. Ketika bendera merah putih akhirnya gagah berkibar di kediaman sang proklamator, kegembiraan tidak dapat terbendungkan. Tawa sukacita bercampur dengan air mata kebahagiaan, baik bagi mereka yang mengikuti langsung prosesi kemerdekaan, maupun  bagi mereka yang hanya bisa menguping melalui saluran radio.

Kemerdekaan Indonesia, seperti yang kita ketahui, tidak didapat dengan mudah. Selain kita harus menunggu selama lebih dari tiga abad, banyak konflik yang dihadapi para pahlawan, bahkan oleh pihak internal Indonesia sendiri. Salah satunya yaitu sebuah peristiwa yang kita kenal dengan Peristiwa Rengasdengklok. Peristiwa ini dipicu oleh perselisihan antara golongan tua dan golongan muda mengenai waktu ideal pembacaan proklamasi kemerdekaan Indonesia,  yang berujung dengan “diculiknya” golongan tua oleh golongan muda ke Rengasdengklok. Beruntung perselisihan ini tidak menghalangi dilaksanakannya proklamasi kemerdekaan.

Setelah Indonesia meraih kemerdekaannya, bukan berarti perjuangan serta merta berakhir. Alih-alih menikmati manisnya kemerdekaan, Indonesia kembali didatangi oleh Belanda yang membentuk Pemerintahan Sipil Hindia Belanda, sebuah organisasi semi militer bertugas untuk merebut kembali Indonesia ke pelukan Belanda. Keinginan Belanda untuk merebut Indonesia sendiri merupakan titah dari sekutu yang takut Indonesia akan menjadi Negara dengan paham komunis, sekaligus melucuti berbagai aset yang ditinggalkan Jepang selepas kekalahan di  Perang Dunia 2. Setelah berhasil menduduki Sabang sejak 25 Agustus 1945, NICA berusaha melakukan penetrasi ke wilayah Aceh, beruntung perlawanan rakyat Aceh untuk mengusir NICA berbuah manis. Akhirnya NICA terpaksa kembali ke Sabang dan upayanya untuk menguasai Aceh hanya membuat mereka gigit jari. Namun, asa Belanda dan sekutu untuk kembali menguasai  Indonesia nyatanya belum juga padam. Hal tersebut dibuktikan dengan datangnya mereka ke Surabaya pada 10 November 1945.

Hari ke-10 di bulan November adalah tanggal yang istimewa bagi Indonesia. Di mana pada setiap tanggal tersebut, Indonesia memperingati hari besar nasional, yaitu Hari Pahlawan. Hari di mana pada tahun 1945, Belanda dan Sekutu datang ke Surabaya untuk merebut kembali Indonesia dan menggagalkan kemerdekaan yang telah diraih pada tanggal 17 Agustus 1945. Bentrokan antara masyarakat dengan Belanda dan sekutu pun tidak terelakkan di hari tersebut. Awal dari bentrokan dipicu oleh dikibarkannya bendera Belanda di Hotel Yamato tanpa persetujuan dari pihak Indonesia. Pihak Indonesia pun berinisiatif untuk melakukan perundingan dengan pihak Belanda untuk menurunkan bendera tersebut. Namun ditolak mentah-mentah oleh Belanda. Akhirnya kemarahan rakyat memuncak dan menghasilkan suatu peristiwa heroik, yaitu disobeknya warna biru pada bendera Belanda yang sedang berkibar, sehingga bendera merah putih lah yang akhirnya berkibar dengan gagahnya di Hotel Yamato.

Setelah gencatan senjata dilakukan pada 29 Oktober, situasi kembali memanas yang dipicu oleh tewasnya pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur, Brigadir Jenderal Mallaby pada 30 Oktober. Tewasnya Mallaby menimbulkan kemarahan besar pada pihak sekutu yang mengganti posisi Mallaby oleh Mayor Jenderal Eric Carden Robert Monsergh. Lalu muncul ultimatum agar Indonesia menyerahkan persenjataan dan menghentikan perlawanan pada mereka. Jelas saja ultimatum tersebut merupakan penghinaan bagi bangsa Indonesia yang telah merdeka, sehingga rakyat pun akhirnya tidak menggubris ultimatum itu. Merasa marah lantaran tidak digubrisnya ultimatum tersebut, tentara inggris pun melancarkan serangan mereka tepat pada tanggal 10 November. Rakyat bukannya tinggal diam, maka pada saat itu terjadilah perlawanan yang dipimpin oleh Sutomo, atau yang lebih akrab dipanggil sebagai Bung Tomo. Di samping Beliau, turut hadir para tokoh Islam seperti KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Wahab Hasbullah. Berpadunya kekuatan kaum nasionalis dan kaum agamawan pada perlawanan 10 November 1945 menghasilkan kemenangan pada pihak Indonesia yang berhasil mengusir sekutu dan Belanda. Peristiwa 10 November memakan korban sekitar enam ribu sampai enam belas ribu jiwa di pihak Indonesia dan enam ratus sampai dua ribu jiwa di pihak lawan. Dengan banyaknya korban pada peristiwa tersebut, tidak salah jika setiap tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan. Hari di mana masyarakat Indonesia (khususnya Surabaya) mengorbankan jiwa raganya untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Ada satu hal yang sangat menarik pada perlawanan rakyat Surabaya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia, yaitu peran para ulama atau agamawan Islam yang sangat signifikan. Sebelumnya, disebutkan bahwa KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Wahab Hasbullah membersamai Bung Tomo mengeluarkan daya upayanya mengusir tentara sekutu dan Belanda. Bahkan, sebelumnya KH. Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan merupakan salah satu bentuk jihad. Akhirnya perjuangan tersebut juga berbondong-bondong dilakukan oleh para pemuda dari pesantren-pesantren di Jawa Timur. Dikeluarkannya fatwa jihad bagi perang mempertahankan kemerdekaan salah satunya dilandasi oleh terjaminnya kebebasan dalam kegiatan keagamaan, terutama kegiatan agama Islam.

Selain dalam berkegiatan, kebebasan juga hadir dalam mengekspresikan identitas keagamaan. Adzan yang bebas berkumandang lima kali sehari adalah salah satunya.

Lalu yang kedua, kemerdekaan harusnya menjamin suatu Negara untuk mengelola sendiri sumber daya yang dimilikinya. Hal ini erat kaitannya dengan kesejahteraan masyarakat. Dengan dikelolanya sumber daya yang dimiliki, suatu Negara dapat memanfaatkannya seoptimal mungkin demi menciptakan kesejahteraan rakyatnya. Tidak ada perilaku setor-menyetor pada pihak asing bagai perdagangan zaman kolonial yang mewajibkan upeti bagi kaum petani.

Yang ketiga, Islam sendiri mengutuk segala bentuk penjajahan. Salah satu bentuk penjajahan yang difokuskan untuk dihapus adalah penjajahan dalam bentuk perbudakan yang menjunjung tinggi nilai-nilai hak asasi manusia. Perbudakan pada zaman di mana Islam lahir merupakan suatu hal yang lazim untuk dilakukan. Saat Islam mulai tersebar, pelan-pelan Islam menghapuskan sistem perbudakan dengan beberapa tahap. Salah satunya adalah hukum di mana menjadi muslim diperbolehkan, saat itu, memiliki budak, namun ketika budak tersebut hamil lalu melahirkan, anak yang dilahirkan merupakan entitas manusia yang merdeka. Begitu pun juga semua keturunannya yang lahir berikutnya hingga akhirnya sistem perbudakan dalam Islam pun perlahan tapi pasti dihapuskan.

Dengan tiga landasan ini, jelaslah bahwa kemerdekaan merupakan suatu hal yang sangat penting didapat dan dipertahankan oleh setiap negara di dunia, oleh setiap bangsa yang ada di dunia, dan oleh setiap individu manusia yang ada di dunia.

Indonesia telah merdeka sekitar 75 tahun. Namun pertanyaan retoris masih saja selalu hadir setiap menjelang hari kemerdekaan akan diperingati. “apakah kita, bangsa Indonesia, sudah benar benar merdeka?”. Secara lahiriah indonesia memang sudah merdeka sejak diproklamasikannya kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Lalu berbagai syarat sebagai Negara merdeka pun telah terpenuhi. Seperti adanya pengakuan dari Negara lain dan adanya pemerintahan yang berdaulat. Bangsa asing telah lama pergi dari Indonesia, lalu bergabungnya Indonesia dalam organisasi-organisasi internasional, seperti PBB, membuktikan Indonesia telah mendapat pengakuan dari Negara lain. Tidak lama setelah diproklamasikannya kemerdekaan pun Indonesia langsung mendapat Presiden dan Wakil Presiden beserta jajarannya. Secara individual, masyarakat pun telah terjamin kebebasannya melalui hak asasi manusia yang diatur dalam undang-undang.

Namun, kemerdekaan bukan hanya suatu hal yang sifatnya lahiriah, tetapi juga batiniyah. Secara batiniyah, kemerdekaan tidak hanya digambarkan oleh adanya pengakuan dari negara lain bahwa Indonesia secara de facto telah merdeka. Tetapi bagaimana cara negara lain memperlakukan Indonesia sebagai negara yang setara dengan mereka. Bukan hanya negara dunia ketiga yang letaknya strategis dalam membangun bisnis dan objek untuk memperkaya negara lain. Bukan hanya negara yang selalu terpengaruh situasi perpolitikan dan perekonomian dunia, tetapi juga mempengaruhi situasi dalam bidang-bidang tersebut.

Secara batiniyah pula kemerdekaan bukan hanya kebebasan dalam berperilaku, berekspresi, dan mengeluarkan pendapat. Tetapi juga kebebasan yang dibersamai oleh rasa tanggung jawab yang besar. Yaitu kebebasan yang dengan kesadaran penuh memperhatikan kebebebasan individu lainnya. Kebebasan yang berasal dari hati nurani, bukan berdasar pada ego pribadi. Melihat situasi yang ada di Indonesia saat ini, pantas saja jika banyak yang berpendapat bahwa Indonesia belum sepenuhnya merdeka. Masih pusingnya pemerintah terhadap perang dagang Amerika Serikat-China yang cukup banyak mempengaruhi kondisi perekonomian Indonesia, menunjukan bahwa Indonesia belum sepenuhnya independen dan merdeka. Hal tersebut dibuktikan pula oleh masih belum mampu bersaingnya UMKM Indonesia dengan berbagai unit usaha yang dimiliki oleh bangsa asing. Belum lagi di antara masyarakat Indonesia banyak yang lebih bangga terhadap budaya asing dibanding budaya Indonesia sendiri. Selain itu, maraknya berbagai tindakan korupsi, kolusi, dan nepotisme menunjukan bahwa bangsa Indonesia belum berperilaku bebas yang dibersamai oleh tanggung jawab. Hal tersebut diperparah dengan berbagai tindakan kejahatan seperti pembunuhan dan pemerkosaan. Maka dari itu, mempertahankan kemerdekaan adalah suatu hal yang selalu relevan untuk dilakukan pada saat ini dan juga di masa depan. Terutama kemerdekaan batiniyah.

Sebagai seorang muslim, menjadi kewajiban bagi kita pula untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia untuk melanjutkan perjuangan yang dilakukan oleh leluhur kita pada masa lampau, walaupun dengan cara berbeda. Kita tidak perlu lagi mengangkat senjata dan menumpahkan darah tentara-tentara asing. Sebagai muslim kita dapat menjalankan syariat Islam secara baik dan kaffah. Kita dapat meneladani Rasullah berkaitan dengan etikanya dalam berniaga, meneladani beliau dalam bertoleransi dan menghargai keberagaman, dan berbagai sifat dan perilakunya yang selalu terjaga kesalehannya. Sebagai muslim pula kita memiliki kewajiban untuk memberikan gambaran pada umat beragama lain bahwa menjadi muslim adalah menjadi seorang manusia yang merdeka dan yang mempertahankan kemerdekaan diri, bangsa, dan negaranya.

Referensi :

Republika Online. (2016). Muslim Berperan Besar dalam Kemerdekaan RI | Republika Online. [online] Available at: https://www.republika.co.id/berita/koran/khazanah-koran/16/02/23/o2zko814-muslim-berperan-besar-dalam-kemerdekaan-ri [Accessed 29 Nov. 2019].

Republika Online. (2017). Fatwa Jihad KH Hasyim Asy’ari dan Peristiwa 10 November 1945 | Republika Online. [online] Available at: https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/17/11/10/oz6vut396-fatwa-jihad-kh-hasyim-asyari-dan-peristiwa-10-november-1945 [Accessed 29 Nov. 2019].

Kusumaningsih, A. (n.d.). Sejarah Peristiwa 10 November di Surabaya Secara Singkat – Sejarah Lengkap. [online] Sejarah Lengkap. Available at: https://sejarahlengkap.com/indonesia/kemerdekaan/pasca-kemerdekaan/sejarah-peristiwa-10-november [Accessed 29 Nov. 2019].

Wulandari, T. (n.d.). Upaya Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia. [Powerpoint].

Leave a Reply

Close Menu