Gausah Kuliah, Nikah aja!

Gausah Kuliah, Nikah aja!

Assalamualaikum, Sahabat!

mendekati masa UTS gini tentunya semakin banyak yang harus dipersiapkan nih. Mulai dari merapihkan catatan, mengerjakan latihan soal buku A sampai buku Z, atau sibuk cari guru buat les sama teman se-peer group.
Tapi pernah ga sih kamu mendengar ucapan seperti “Ah udahlah gausah kuliah, mau nikah aja” , “Gue mau nikah aja ah, capek” atau perkataan lainnya yang memiliki makna serupa. Atau justru kamu sendiri nih yang pernah mikir kayak gtu?
Eits, patut kamu ketahui nih, nikah itu bukanlah solusi akhir buat kamu yang udah capek kuliah, stres akan banyak tugas, stres menghadapi UTS yang udah di depan mata, atau bahkan stres akan skripsi yang direvisi mulu sama dosen pembimbing.
Bukan ukhti, bukan. Coba buang jauh-jauh pikiran kalau pernikahan itu “aku suka dia, dia suka aku, kita menikah, lalu hidup bahagia selamanya”. Kayaknya hal itu hanya bisa ditemukan di dongeng princess-princess deh. Eh tapi bukan berarti pernikahan itu sengsara membawa derita juga ya. Makin bingung deh hehe, jadi pernikahan itu gimana sih. Nah, daripada kamu bingung dan rentan mengalami logical fallacy , mending kamu simak nih apa aja yang harus kamu perhatikan dalam mempertimbangkan sebuah pernikahan.

1. Luruskan niat
Dikutip dari perkataan Imam Ja’far Ash-Shadiq, guru dari Imam Abu Hanifah “Orang yang mempunyai niat tulus, adalah dia yang hatinya tenang, terbebas dari pemikiran hal-hal yang dilarang, berasal dari upaya yang membuat niatmu murni untuk Allah dalam segala perkara.” Niat adalah permulaan dari segala sesuatu, jadi sebelum memutuskan sesuatu luruskan niatnya dulu ya ukhti. Jika niat kita dalam pernikahan sudah tulus dan murni karena Allah, insyaAllah cobaan apapun yang menghadang tidak akan membuat kita menyerah di tengah jalan, namun justru memperkuat hubungan tersebut. Percaya deh kalau Allah itu ada dan akan memberikan ketenangan dan menunjukkan jalan keluar terbaik dari segala permasalahan. Tapi kalau niat melangsungkan pernikahan hanya sebatas pelarian dari perkuliahan tentunya masalah kecil akan terasa berat dan sangat melelahkan.

2. Pernikahan bukan akhir dari segalanya
Tidak bisa dipungkiri, masih banyak orang yang menganggap pernikahan sebagai tujuan hidup, akhir dari perjuangan, atau sesuatu yang harus dicapai dan diperjuangkan. “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)” Berbekal Qs An-nur ayat 26 tersebut banyak pemuda pemudi yang berupaya memperbaiki diri dalam berbagai hal agar kelak mendapat jodoh yang lebih baik atau minimal sepadan. Apakah hal tersebut salah? tentu tidak. Hal yang wajar jika seseorang ingin mendapat pasangan yang baik, dan sebagai bentuk ikhtiarnya kita berupaya memantaskan diri. Namun beberapa orang malah menjadikan hal tersebut sebagai perjuangan terbesar dalam hidup dan terbentuklah mind set bahwa setelah kita menikah maka perjuangan sudah berakhir, apalagi jika kita mendapat jodoh sesuai yang diharapkan. Apa benar menikah merupakan akhir dari perjuangan? Iya, buat kamu yang selama ini hanya memikirkan doi dan berupaya melepaskan status jomblo dengan cara yang halal. Tapi ukhti, inget deh hidup itu ga cuma buat cari jodoh. Kalau kamu masih menjadikan pernikahan sebagai akhir dari perjuangan, ke depannya kamu bakal kaget sama kenyataan yang seringkali tidak sesuai dengan harapan. Kalau untuk kasus ini sih pasti tidak sesuai, kenapa? ya karena pernikahan sendiri merupakan gerbang awal kehidupan yang baru, yang tentunya akan banyak rintangan yang sudah menunggu untuk dilewati. Jadi alangkah baiknya mulai memperbaiki mindset yang terlanjur salah, biar nanti saat kita menikah ga terasa capek duluan, karena perjuangan baru saja dimulai loh.

3. Bukan cuma satu hati, tapi juga satu visi dan misi
Nah, poin terakhr ini juga patut diperhatikan loh. Cuma berbekal “aku cinta dia, dia cinta aku, kita udah satu hati” terus kamu langsung yakin nikah sama dia? Mau besok juga gapapa, asalkan sama dia? Hmm, hati manusia itu tidak ada yang bisa mengukur loh. Daripada melihat hati yang tidak bisa terlihat bagaimana kalau cari yang satu visi dan misi? Nikah itu ibarat naik kapal, visi dan misi menjadi tujuan dan arah kapal berlayar. Kalau ga ada? Ya nanti kapal nya bingung mau kemana, yang ada malah ikut arus aja entah berakhir dimana. Belajar dari kisah Nazmuddin Ayyub, seorang penguasa Tikrit yang saat itu belum menikah dalam waktu yang lama, kita dapat melihat betapa pentingnya visi dan misi dalam pernikahan. “Aku menginginkan istri yang shalihah yang bisa menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan anak yang dia tarbiyah dengan baik hingga jadi pemuda dan ksatria serta mampu mengembalikan Baitul Maqdis ke tangan kaum muslimin.” begitulah visi yang ingin dibawa beliau dalam mengarungi bahtera rumah tangganya kelak. Allah pun mempertemukannya dengan seorang wanita bernama Sit Khatun yang baru saja menolak seseorang yang hendak meminangnya. Alasannya? Karena tidak cocok. Laki-laki seperti apakah yang diinginkan Sit Khatun? “Aku ingin seorang pemuda yang menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan darinya anak yang menjadi ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis kepada kaum muslimin.”. Yap, sama dengan visi yang dibawa Najmuddin Ayyub. Allah pun mempersatukan mereka dan dari pasangan ini lah lahir Shalahuddin Al-Ayyubi yang pada tahun 583 H berhasil membebaskan Baitul Maqdis bersama pasukan muslim lainnya. Indah bukan? Saat visi dan misi pernikahan berhasil tercapai tentu kita akan merasa sangat bahagia, bahkan saat visi dan misi belum ditakdirkan untuk tercapai yakinlah bahwa Allah sudah mencatat perjuanganmu. Nah buat kamu ukhti-ukhti yang masih sibuk memikirkan “duh doi suka aku ga ya?” atau malah udah yakin kamu ada di hatinya, mending fokusnya diubah untuk merumuskan visi misi pernikahan dan carilah “doi” yang memilki visi yang sama. Eits, tapi ingat jangan sampai visi misinya cuma terbatas pada dunia ya.

Wah ternyata banyak ya yang harus diperhatikan. Daripada kamu pusing duluan, mending kamu mulai bersiap untuk UTS yang udah di depan mata aja hehehe. Udah deh pikiran “pernikahan itu solusi buat yang udah capek kuliah” lupain. Buang-buang jauh pikiran kayak gitu. Tapi kalau udah terlanjur suka doi gimana? Yaudah do’a aja, minta sama Allah karena Allah itu maha tau yang terbaik buat hambaNya. Sebelum menikah dengan Ali bin Abi Thalib, Fatimah juga sudah memiliki perasaan kok diam-diam. Tapi jangan sampai perasaan tersebut keluar di waktu yang salah dengan cara yang salah ya ukhti. Lebih penting lagi nih, jangan sampai rasa cinta kamu sama doi lebih besar dari cinta kamu kepada Allah ya ukhti.

Selamat UTS !!

===============
Departemen Muslimah Learning Center
FSI FEB UI
Rumah Ukhuwah Kita
#InitiatingSincerity | 2019

Leave a Reply