Euforia Uang Baru 75 Ribu: Hukum dan Dampaknya

Euforia Uang Baru 75 Ribu: Hukum dan Dampaknya

     Dalam rangka menyambut HUT RI KE 75, Bank Indonesia mencetak uang edisi khusus senilai Rp75.000,00. Masyarakat Indonesia dapat memperoleh dan menukarkan uang yang hanya dicetak 75 juta lembar ini dengan melakukan pemesanan secara online terlebih dahulu melalui web pintar.bi.go.id. Setelah memesan, masyarakat dapat langsung menukarkan uangnya di kantor BI yang telah dipilih sesuai dengan yang tertera pada bukti pemesanan.

     Walaupun cara dan syarat untuk mendapatkan uang edisi khusus ini sangatlah mudah, keunikan desain serta jumlahnya yang terbatas membuat permintaannya tinggi. Hal tersebut juga memberi kesan unik dan ketertarikan bagi para kolektor barang. Demand yang tinggi dengan supply yang tetap membuat harga suatu barang naik. Hal ini pun terjadi pada uang baru yang seakan akan berubah menjadi suatu komoditi. Akibatnya, kita dapati beberapa seller di suatu marketplace menjual kembali uang baru pecahan Rp75.000,00 itu dengan nominal yang jauh lebih tinggi bahkan hingga jutaan rupiah. Bagaimana islam memandang fenomena ini? Bagaimana hukumnya?

     Jual beli mata uang dalam fiqih kontemporer diistilahkan dengan tijarah an-naqd atau al-sharf (pertukaran uang, currency exchange). Hukum jual beli mata uang adalah mubah dalam Islam dengan beberapa syarat yang harus dipenuhi (Hamid, 2017).

     Kebolehan tersebut didasarkan kepada hadis Rasulullah SAW, “Emas ditukar dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, jewawut dengan jewawut, kurma dengan kurma, garam dengan garam, harus semisal dengan semisal, sama dengan sama (beratnya/takarannya), dan dari tangan ke tangan (kontan). Maka jika berbeda jenis-jenisnya, jual lah sesuka kamu asalkan dari tangan ke tangan (kontan).” (HR Muslim nomor 1210; a-Tirmidzi III/532; Abu Dawud III/248).

   Hadits ini menunjukkan syarat yang harus dipenuhi dalam pertukaran suatu barang, yakni kesamaan (at-tasawi) berat dan serah terima secara tunai jika pertukaran masih satu jenis barang. Namun jika pertukaran barang tak sejenis, boleh ada kelebihan berat, syarat yang harus dipenuhi hanya satu, yakni dilakukan secara tunai. Adapun hukum pertukaran emas dan perak berlaku pula untuk mata uang saat ini, hal ini dikarenakan sifat emas dan perak pada saat itu juga sebagai mata uang dan alat tukar.

     Sejalan dengan hadist tersebut, Pakar fiqih muamalah, Ustadz Oni Sahroni menjelaskan dalam Islam pada dasarnya dibolehkan tukar-menukar uang dengan syarat dilakukan secara tunai dan dengan nominal uang yang sama. Uang tidak boleh dijadikan sebagai komoditi selama mata uang tersebut tetap berlaku sebagai alat pembayaran yang sah menurut otoritas. Maka jual beli uang baru
pecahan Rp75.000,00 seharga jutaan rupiah seperti yang ramai dilakukan belakangan ini tidak sesuai dengan tuntunan hadits karena tidak memenuhi satu dari dua syarat yaitu harus dengan nominal yang sama.

     Lantas apakah yang akan terjadi dalam perekonomian jika praktik jual beli uang dengan harga yang jauh lebih tinggi marak terjadi di masyarakat? apakah hal ini menimbulkan inflasi?

     Pencetakan uang baru Rp75.000,00 sebanyak 75 juta lembar ini senilai dengan Rp5,62 triliun. Tambahan uang sebesar ini tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap likuiditas perekonomian (CNN, 2020). Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Akhmad Akbar Susamto menyebut setidaknya ada tiga faktor yang membuat uang pecahan Rp75.000,00 ini tidak akan menyebabkan inflasi.

     Pertama, angka Rp5,62 triliun memiliki persentase kurang dari 1% jika dibandingkan dengan jumlah uang yang beredar dalam arti luas (M2)[1]. Tabel 1 dibawah ini menunjukkan jumlah uang beredar di masyarakat dari Januari hingga Juni 2020 (Baik M1 atau M2).

Tabel
1. Jumlah Uang Beredar Januari-Juni 2020

Sumber:

(Kemendag RI, 2020)

     Dalam tabel tersebut terlihat jumlah uang beredar yang cenderung meningkat setiap bulannya, bahkan pada Juli 2020 jumlah uang beredar dalam arti luas (M2) mencapai Rp6.567,7 triliun (BI, 2020b). Peningkatan ini terjadi akibat kenaikan aktiva luar negeri bersih yang mencapai 17,6% (yoy) pada Juli 2020 (BI, 2020b). Hal ini membuktikan peningkatan jumlah uang beredar yang identik dengan inflasi tidak melulu disebabkan oleh bank sentral yang mencetak uang baru, namun lebih dikarenakan aktivitas ekonomi yang terus tumbuh. Selain itu, masyarakat juga harus menukarkan uang dengan jumlah yang sama kepada BI. Artinya, pertambahan jumlah uang beredar akan diikuti dengan pengurangan dengan jumlah yang sama. 

     Kedua, motivasi masyarakat memiliki uang baru adalah untuk disimpan sebagai koleksi bukan dibelanjakan. Uang yang tidak ditransaksikan tidak memiliki multiplier effect. Ketiga, uang dikeluarkan saat pandemi dimana perekonomian sedang melemah dengan inflasi rendah. Bahkan, pada Agustus 2020 terjadi deflasi sebesar 0,05 persen (BPS, 2020). Tabel 2 menunjukkan penurunan angka inflasi di awal tahun 2020 yang disebabkan oleh turunnya permintaan agregat akibat wabah covid-19.

Tabel
2. Laporan Inflasi (Indeks Harga Konsumen)

Sumber:
(BI, 2020a)

     Pengamat Ekonomi Universitas Indonesia Fithra Faisal Hastiadi mengatakan, efek yang sama akan terjadi pada uang baru yang kembali diperjualbelikan dengan nominal yang lebih tinggi layaknya sebuah komoditi (Ulfa Arieza, 2020). Hal tersebut mungkin akan menghasilkan transaksi ekonomi, tapi tetap pengaruhnya tidak akan signifikan karena faktor- faktor yang telah disebutkan diatas. 

Daftar Pustaka

BI. (2020a). LAPORAN INFLASI (Indeks Harga Konsumen). https://www.bi.go.id/id/moneter/inflasi/data/Default.aspx

BI. (2020b). Uang Beredar (M2) dan Faktor yang Memengaruhi. 1–9. https://www.bi.go.id/id/ruang-media/info-terbaru/Pages/Uang-Beredar-Meningkat-pada-Juli-2020.aspx

BPS. (2020). STATISTIK Perkembangan Indeks Harga Konsumen / Inflasi. 01, 1–12.
https://www.bps.go.id/pressrelease/2020/01/02/1649/desember-2019-inflasi-sebesar-0-34-persen–inflasi-tertinggi-terjadi-di-batam-sebesar-1-28-persen-.html

CNN. (2020). Ekonom Nilai Uang Baru Rp75 Ribu Tak Pengaruhi Inflasi. 17 Agustus 2020, 1.
https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20200817151452-78-536549/ekonom-nilai-uang-baru-rp75-ribu-tak-pengaruhi-inflasi

Hamid, A. (2017). Mekanisme Mata Uang Modern Dalam Islam. Al-Masharif: Jurnal Ilmu Ekonomi Dan Keislaman, 5(1), 16.
https://doi.org/10.24952/masharif.v5i1.768

Kemendag RI. (2020). Jumlah Uang Beredar.
https://statistik.kemendag.go.id/amount-of-circulate-money

Ulfa Arieza, C. I. (2020). Mengulas Dampak Guyuran Uang Baru Rp75 Ribu. Rabu, 19 Agustus 2020, 1.
https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20200819065649-78-537112/mengulas-dampak-guyuran-uang-baru-rp75-ribu

[1] Menurut Bank Indonesia, uang Beredar dapat didefinisikan dalam arti sempit (M1) dan dalam arti luas (M2). M1 meliputi uang kartal yang dipegang masyarakat dan uang giral (giro berdenominasi Rupiah), sedangkan M2 meliputi M1, uang kuasi (mencakup tabungan, simpanan berjangka dalam rupiah dan valas, serta giro dalam valuta asing), dan surat berharga yang diterbitkan oleh sistem moneter yang dimiliki sektor swasta domestik dengan sisa jangka waktu sampai dengan satu tahun.

 

Leave a Reply