Bukan Hanya Corona Saja Yang Melukai

Bukan Hanya Corona Saja Yang Melukai

“Nothing in all the world is more dangerous than sincere ignorance and conscientious stupidity.”

Pertunjukan manusia dalam panggung sandiwara kehidupan digambarkan oleh Marthin Luther King, Jr. dalam salah satu kutipan beliau.

 Kutipan ini sangat relevan dengan atribut interaksi manusia. Akhir-akhir ini, sedang ramai berita di media dengan headline virus corona yang sudah sampai di Indonesia, tepatnya di Depok. Kasus virus corona mengganggu beberapa sektor di negara Indonesia, khususnya dalam perekonomian. Akibat dari virus ini, perekonomian negara menjadi tidak stabil baik dari sisi konsumen maupun produsen.

Virus corona adalah virus yang dapat menyebabkan infeksi sistem pernafasan. Gejala yang dialami adalah batuk, demam, serta sesak napas (Merry Dame Cristy Pane, 2020). Juru bicara pemerintah penanganan corona, Achmad Yurianto, menyatakan bahwa 96 warga Indonesia telah dinyatakan positif terpapar virus corona, 8 orang sembuh, dan 5 orang meninggal dunia. Dalam merespons virus tersebut, masyarakat dianjurkan untuk melakukan pencegahan penularan. Salah satu bentuk pencegahan yang dilakukan adalah pemakaian masker untuk masyarakat yang telah mengalami gejala tersebut. Namun, kesalahan interpretasi masyarakat selaku konsumen menyebabkan mereka melakukan “panic buying”  dan beramai-ramai memborong pasokan masker untuk penjagaan diri.

Di sisi lain, para produsen menahan penjualan masker. Biaya produksi dan keuntungan menjadi dua faktor utama. Kejadian tak terduga seperti virus corona menyebabkan peningkatan biaya produksi dalam rantai produksi. Selain itu, merebaknya virus juga dimanfaatkan oleh produsen agar mendapatkan keuntungan. Mereka memanfaatkan kebiasaan panic buying masyarakat dengan membeli masker dalam jumlah berlebih untuk dijual kembali dengan harga berkali lipat mahalnya. Apa yang menyebabkan hal tersebut menjadi sangat kontroversial? Dan mengapa dapat terjadi penimbunan masker baik dari segi konsumen maupun produsen? Bagaimana pula Islam memandang hal ini dari kacamata fiqih?  

 

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita akan membahas suatu prinsip hukum dalam Islam. Prinsip hukum Islam meyakini bahwa barang apa saja yang dihalalkan oleh Allah  SWT untuk dimiliki, maka halal pula untuk dijadikan sebagai objek perdagangan. Akan tetapi, terdapat ketentuan yang menyatakan bahwa pada dasarnya barang tersebut halal, namun karena sikap, perbuatan, dan tata cara pelaku perdagangan bertentangan dengan syariat, maka hal tersebut menjadi haram.

Islam melihat kasus penimbunan masker di tengah situasi masuknya virus corona ini merupakan bentuk dari ikhtikar. Ikhtikar secara etimologi adalah perbuatan menimbun, pengumpulan (barang-barang) atau tempat untuk menimbun. Sedangkan ikhtikar secara terminologis adalah menimbun atau menyimpan barang dari hasil pembelian saat harga beli tinggi dan dijual dengan harga yang lebih tinggi lagi dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan yang lebih besar saat masyarakat berada dalam kebutuhan tinggi.

Ikhtikar merupakan praktik jual beli yang diharamkan dalam Islam. Praktik ini diharamkan karena adanya unsur Tadhyiiq, yaitu membuat kesulitan kepada masyarakat umum. Praktik ini juga menciptakan mudharat yang besar terhadap kehidupan masyarakat serta stabilitas ekonomi masyarakat dan negara. Dasar hukum yang digunakan oleh para ulama fiqh adalah kandungan nilai universal dalam Al Quran yang menyatakan bahwa setiap perbuatan aniaya termasuk ikhtikar di dalamnya diharamkan oleh syariat Islam. Dalam riwayat dijelaskan, dari “Ma’mar bin Abdullah, Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seseorang melakukan penimbunan melainkan dia adalah pendosa.” (HR. Muslim)

Dalam hadits lain juga disebutkan bahwa mereka yang sengaja melakukan penimbunan barang akan dilaknat oleh Allah dengan kusta dan kerugian. Hal ini tertera dalam hadits “Rasulullah bersabda, ‘Barang siapa melakukan ikhtikar atau menimbun barang makanan kaum muslimin, maka Allah akan memberinya penyakit kusta dan kerugian.” (HR. Abu Daud)

 Ayat Al Quran yang juga menjadi dasar landasan pelarangan ikhtikar terdapat pada surat Al Hasyr ayat 7:

 

مَّآ أَفَآءَ ٱللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ مِنْ أَهْلِ ٱلْقُرَىٰ فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْيَتَٰمَىٰ وَٱلْمَسَٰكِينِ وَٱبْنِ ٱلسَّبِيلِ كَىْ لَا يَكُونَ دُولَةًۢ بَيْنَ ٱلْأَغْنِيَآءِ مِنكُمْ ۚ وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمْ عَنْهُ فَٱنتَهُوا۟ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ

 

“Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.”

         Para ulama berpendapat bahwa kriteria penimbunan barang yang haram adalah sebagai berikut :

1.      Barang yang ditimbun adalah barang yang kelebihan dari kebutuhannya dan tanggungannya untuk persediaan setahun penuh. karena seseorang boleh menimbun untuk persediaan nafkah dirinya dan keluarganya dalam tenggang waktu kurang dari satu tahun.

2.      Pelaku ekonomi menunggu saat memuncaknya harga barang agar dapat menjualnya dengan harga yang lebih tinggi, karena orang akan sangat membutuhkan barang tersebut kepadanya.

3.      Penimbun melakukan tindakan tersebut pada saat dimana masyarakat sangat membutuhkan barang yang ditimbun, seperti makanan, pakaian, dan kebutuhan lainnya sehingga menyebabkan kesulitan.

         Dalam hal ikhtikar, yang paling utama yang harus diperhatikan adalah hak konsumen, karena menyangkut hak-hak banyak orang. Sedangkan hak yang melakukan penimbunan hanyalah hak pribadi yang ingin mendapatkan keuntungan yang lebih banyak.

         Kasus Virus Corona ini tidak hanya membuat beberapa pelaku ekonomi melakukan penimbunan masker saja sebagai salah satu alat yang digunakan untuk mencegah penularan virus tersebut. Namun mereka juga berlomba-lomba membeli dan melakukan penimbunan terhadap bahan kebutuhan pokok. Pada akhirnya bukan hanya virus corona yang dapat membunuh, tapi saudaranya sendiri lah yang secara tidak langsung akan membunuh saudara nya yang lain, karena perilaku penimbunan yang mereka lakukan menyebabkan harga melonjak tinggi sehingga masyarakat banyak yang mengalami kesulitan terutama orang-orang miskin.

Hal ini menunjukan bahwa Islam sangat menekankan prinsip keadilan dalam setiap aspek. Kaidah fiqh juga menyebutkan “haqq al ghair muhaafazun alaihi syar’an”. Kaidah tersebut memiliki makna bahwa islam menjunjung tinggi dan memelihara hak orang lain secara syara’.

Mengedepankan maslahah dan humanity di atas keuntungan adalah dasar dari tindakan rasionalitas dalam Islam. Sedangkan para penimbun ini memiliki orientasi profit-maximization yang berlebihan, tidak mengindahkan maslahah. Islam membentuk pola pikir dimana seorang individu sebagai pelaku ekonomi tidak hanya mengedepankan keuntungan dan mementingkan self-interest. Falah atau kemenangan dan kesejahteraan bagi seluruh umat merupakan tujuan utama mereka. 

Maqashid pelarangan ikhtikar dalam Islam dibuktikan dengan fenomena yang terjadi baru-baru ini. Ketika COVID-19 merebah di dunia, khususnya Tiongkok, sebagian besar produsen menjual masker dengan harga di atas harga normal pasar. Kepala KPPU Kanwil I, Ramli Simanjuntak, menyatakan bahwa harga masker naik hampir 1.000 persen. Dikutip dari CNNIndonesia.com, pada platform Shopee satu kotak masker dijual seharga Rp500.000,00 hingga Rp700.000,00. Beberapa toko online lainnya bahkan menjual maskernya dengan harga yang lebih tinggi.

Dilihat dari sisi konsumen, harga melejit dari masker kesehatan menyebabkan tidak terpenuhinya kebutuhan dan utilitas mayoritas konsumen. Ketika berita virus corona sampai ke Indonesia, mayoritas masyarakat melakukan panic buying dan membeli masker secara berlebihan untuk melindungi diri walaupun mereka tidak membutuhkannya. Padahal berdasarkan anjuran dari WHO (World Health Organization), seorang individu harus memakai masker ketika individu tersebut menjaga orang sakit yang diduga terkena virus corona atau mengalami gejala yang telah dipaparkan, seperti demam, batuk, dan sesak napas.

Saat ini, stok masker di Padang, Depok, Yogyakarta, Malang, dan daerah-daerah lain semakin menipis. Pada tanggal 03 Maret yang lalu, Presiden Indonesia, Jokowi, menyatakan bahwa Indonesia memiliki 50 juta. Namun, hanya seling 9 hari kemudian, Achmad Yulianto selaku Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Virus Corona menyatakan persediaan masker di Indonesia tersisa 15 juta. Dengan begitu, konsumen utama masker yang memiliki urgensi tinggi untuk membeli, sulit untuk memenuhi kebutuhannya. Utilitas mereka tidak dapat terpenuhi akibat sedikitnya supply, tingginya demand, dan harga di luar harga normal pasar. Kejadian tersebut dapat menyebabkan butterfly effect. Dimulai dari penimbunan barang yang dianggap sepele dan wajar, menghasilkan kesulitan pemenuhan kebutuhan masker bagi masyarakat yang sakit, sehingga meningkatkan risiko penularan virus dan penyakit lain yang dapat berakibat sangat fatal.

Menurut UU Perdagangan Pasal 29 ayat 1 berbunyi “Pelaku Usaha dilarang menyimpan Barang kebutuhan pokok dan/atau Barang penting dalam jumlah dan waktu tertentu pada saat terjadi kelangkaan Barang, gejolak harga, dan/atau hambatan lalu lintas Perdagangan Barang”. Dan melihat banyaknya mudharat yang dapat dihasilkan dari penimbunan masker yang merupakan kebutuhan masyarakat saat ini, pemerintah sudah saatnya mengambil tindakan. Para oknum yang terbukti melakukan pelanggaran hukum seharusnya diberikan sanksi yang telah ditetapkan di UU Perdagangan Pasal 107 No. 7 Tahun 2014 dengan ancaman pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 50 miliar. 

Pelarangan penimbunan ini menjadi satu bukti nyata bahwa Islam berupaya untuk mencegah kedzhaliman dan kemudharatan, serta menyucikan manusia dari sifat serakah, egois, dan individualis. Pada akhirnya, konsep ekonomi Islam yang telah diatur oleh syariat mengatur agar manusia tidak salah langkah dalam kehidupan. Apa yang telah Allah gariskan pastilah membawa kebaikan. Sehingga, menjadi penting bagi kita untuk menyadari bahwa setiap larangan Allah pastilah memiliki hikmah dan setiap perintahnya pastilah memiliki maslahah.

 

Wallahua’lam bishowab 

 The world is a dangerous place to live. Not because of the people who are evil; but because of the people who don’t do anything about it.” – Albert Einstein.

 

Referensi:

Marhaenjati, B. (2020). Masker Langka karena Virus Corona, Penimbun Dapat Dipenjara 5 Tahun. Retrieved March 7, 2020, from BeritaSatu.com website: https://www.beritasatu.com/nasional/605027/masker-langka-karena-virus-corona-penimbun-dapat-dipenjara-5-tahun

Himawan. (2020). Pengakuan Penimbun Masker: Saya Kumpulkan 2 Hari dari Sejumlah Apotek. Retrieved March 7, 2020, from Kompas.com website: https://makassar.kompas.com/read/2020/03/05/09305411/pengakuan-penimbun-masker-saya-kumpulkan-2-hari-dari-sejumlah-apotek?page=2

Karim, A. (2001). Ekonomi Islam Suatu Kajian Kontemporer. Jakarta: Gema Insani.

Pasaribu, C. (2004). Hukum Perjanjian dalam Islam. Jakarta: Sinar Grafika.

Fauziah, N. (2020). Menimbun Masker Sama dengan Curang, Ini Hukumnya dalam Islam : Okezone Muslim. https://muslim.okezone.com/. Retrieved 8 March 2020,  from https://muslim.okezone.com/read/2020/03/05/330/2178505/menimbun-masker-sama-dengan-curang-ini-hukumnya-dalam-islam.

WHO. (2019). Coronavirus disease (COVID-19) outbreak. Retrieved March 8, 2020, from World Health Organization website: https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/advice-for-public/when-and-how-to-use-masks

Santoso, B. (2020). Pelaku Penimbun Masker Terancam Penjara 5 Tahun dan Denda Rp 50 Miliar. Retrieved March 8, 2020, from Suara.com website: https://www.suara.com/news/2020/03/03/090857/pelaku-penimbun-masker-terancam-penjara-5-tahun-dan-denda-rp-50-miliar

Kusuma, H. (2020). Harga Masker Makin Gila-gilaan Gara-gara Corona. Retrieved March 8, 2020, from detikfinance website: https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4925846/harga-masker-makin-gila-gilaan-gara-gara-corona

Saputra, A. (2020, March 5). Praktisi Hukum Ini Yakin Penimbun Masker Belum Bisa Dipidana, Ini Alasannya. Retrieved March 8, 2020, from https://news.detik.com/berita/d-4925951/praktisi-hukum-ini-yakin-penimbun-masker-belum-bisa-dipidana-ini-alasannya

Pane, M. D. C. (2020). Virus Corona. Retrieved March 10, 2020, from Alodokter website: https://www.alodokter.com/virus-corona

Kenton, W. (2019). Cost-Push Inflation. Retrieved March 10, 2020, from Investopedia website: https://www.investopedia.com/terms/c/costpushinflation.asp

Pasien Positif Corona nomor 25 Meninggal Dunia. (2020, March 11). Retrieved from https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200311125826-20-482404/pasien-positif-corona-nomor-25-meninggal-dunia

CNN Indonesia. (2020). Update Corona 14 Maret: 96 Positif, 5 Meninggal, 8 Sembuh website: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200314160309-20-483417/update-corona-14-maret-96-positif-5-meninggal-8-sembuh

CNN Indonesia. (2020). Jokowi Sebut Stok Masker di Indonesia Ada 50 Juta website: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200303161934-20-480144/jokowi-sebut-stok-masker-di-indonesia-ada-50-juta

Ratri Mubyarsah, Latu. (2020). Sidak KPPU Temukan Harga Masker Naik 1.000 Persen website:https://www.jawapos.com/jpg-today/05/03/2020/sidak-kppu-temukan-harga-masker-naik-1-000-persen/

Umbari Prihatin, Intan. (2020). Pemerintah Sebut Stok Masker di Indonesia 15 Juta Lembar website : https://www.merdeka.com/peristiwa/pemerintah-sebut-stok-masker-di-indonesia-15-juta-lembar.html

Leave a Reply

Close Menu